PUNCA.CO – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Aceh terus memperkuat upaya pencegahan stunting dengan menggencarkan Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting).
Program ini akan mendampingi 38.004 keluarga berisiko stunting di Aceh sepanjang tahun 2025.
Kepala Perwakilan BKKBN Aceh, Safrina Salim, mengatakan bahwa penanganan stunting masih menjadi PR besar pemerintah. Karena itu, strategi utama yang kini digencarkan adalah pendampingan langsung kepada keluarga berisiko tinggi, terutama pada fase seribu hari pertama kehidupan (HPK) mulai dari masa kehamilan, ibu menyusui, hingga anak usia dua tahun (baduta).
Baca juga: Koalisi Sipil Aceh: Soeharto Tak Layak Jadi Pahlawan, Aceh Pernah Jadi Korban Kekerasan
“Seribu hari pertama kehidupan adalah periode emas bagi tumbuh kembang anak. Kalau fase ini terlewat tanpa asupan gizi dan perhatian yang cukup, anak berisiko tinggi mengalami stunting,” ujar Safrina, Rabu (12/11/2025).
Menurut Safrina, program Genting dijalankan melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK) di seluruh kabupaten/kota.
Setiap desa memiliki satu tim yang terdiri dari bidan desa, kader KB, dan perwakilan PKK. Mereka bertugas mendampingi keluarga berisiko dengan memberikan edukasi gizi, pemantauan kesehatan, serta pendampingan perilaku hidup bersih dan sehat.
Baca juga: Persiraja Banda Aceh Tahan Imbang Adhyaksa FC 1-1 di Banten International Stadium
Safrina menegaskan bahwa kunci utama program ini bukan hanya menurunkan angka stunting yang ada, tetapi juga mencegah lahirnya anak-anak stunting baru di Aceh.
“Kita ingin memastikan tidak ada lagi anak lahir dalam kondisi kekurangan gizi. Kalau sejak ibu hamil sudah kita dampingi, insyaallah anak akan lahir sehat dan kuat,” ujarnya.
Baca juga:Rangka HUT ke-75, Ditpolairud Polda Aceh Gelar Donor Darah
Saat ini, angka prevalensi stunting di Aceh tercatat sebesar 28,06 persen, turun dari 29,5 persen pada tahun sebelumnya. Namun, Safrina mengakui bahwa penurunan tersebut masih relatif lambat karena masih muncul kasus stunting baru setiap tahun.
“Tahun lalu penurunan kita sekitar 0,8 persen. Jadi, strategi pendampingan keluarga berisiko ini menjadi cara paling efektif untuk menekan angka kelahiran stunting baru,” ungkapnya.










