PUNCA.CO – Pemimpin Darud Donya, Cut Putri yang juga cucu keturunan Sultan Aceh, mendesak Pemerintah Aceh dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah I Aceh untuk segera menata, memugar, dan mendaftarkan Kompleks Makam Putri Siti Ubi Syah di Gampong Pande, Banda Aceh Darussalam, sebagai Cagar Budaya resmi.
Kompleks makam yang diyakini sebagai salah satu situs penting Kesultanan Aceh itu kini berada dalam kondisi memprihatinkan dan terancam rusak. Padahal, situs ini menyimpan jejak sejarah perempuan bangsawan Aceh yang berjasa besar dalam mempertahankan wilayah kerajaan pada abad ke-16.
“Kompleks makam ini bukan makam biasa. Di dalamnya terdapat makam para tokoh besar dan ulama Kesultanan Aceh. Sayangnya, kondisinya kini tidak terawat. Pemerintah dan BPK harus segera turun tangan,” tegas Cut Putri, Kamis (13/11/2025).
Baca juga: Aceh Besar Ajukan Dukungan Dana Pembangunan Museum dan Perpustakaan ke Komisi X DPR RI
Menurutnya, keberadaan makam Putri Siti Ubi Syah selama ini bahkan menjadi perhatian peneliti luar negeri karena nilainya yang tinggi dalam sejarah Kesultanan Aceh. Situs ini juga memperkaya daftar tokoh perempuan hebat dalam sejarah kerajaan Islam terbesar di Nusantara tersebut.
Dalam sumber sejarah klasik seperti Bustanussalatin karya Syeikh Nuruddin Ar-Raniry dan Hikayat Aceh yang telah diakui UNESCO, disebutkan bahwa Putri Siti Ubi Syah merupakan putri dari Sultan Alaiddin Al Kahhar (1539–1571 M), cucu dari Sultan Ali Mughayat Syah (1507–1530 M) — pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Ia bersaudara dengan Sultan Ali Riayat Syah (1571–1579 M) yang terkenal hingga ke Eropa karena keberaniannya menyerang Portugis di Malaka.
“Temuan makam Putri Siti Ubi Syah ini menegaskan bahwa sejak masa Kesultanan Aceh, peran perempuan sudah sangat kuat dan strategis. Mereka bukan hanya simbol bangsawan, tetapi juga pejuang sejati,” ujar Cut Putri.
Baca juga: Tim Arung Jeram Banda Aceh Gagal Tampil di Pra PORA Akibat Minim Anggaran
Ia menjelaskan, Putri Siti Ubi Syah dikenal menjaga salah satu benteng terkuat di Kuta Bak Bi, Kuala Aceh peran yang setara dengan Laksamana Malahayati (1550–1615 M), sosok perempuan legendaris penjaga benteng depan Kesultanan Aceh.
Selain memiliki nilai sejarah dan keteladanan tinggi, nisan makam Putri Siti Ubi Syah juga menyimpan pesan spiritual mendalam. Pada nisannya terukir kalimat berbahasa Arab: “Ad Dunya Sa’ah Faj’alaha Ta’ah” yang berarti “Dunia hanya sesaat, jadikanlah ia ketaatan.”
“Pesan di batu nisannya begitu menyentuh. Ia seorang putri bangsawan yang memiliki segalanya — kekuasaan, kemuliaan, dan kehormatan. Namun, yang ia tinggalkan hanyalah pesan tentang ketaatan kepada Allah,” tutur Cut Putri.
Baca juga: BGN Sebut Makan Bergizi Gratis Menyumbang 48 Persen Kasus Keracunan Pangan di Indonesia
Ia menegaskan, penting bagi masyarakat Aceh, terutama generasi muda, untuk menghormati dan merawat kembali peninggalan sejarah yang menjadi bagian dari jati diri dan kebanggaan daerah.
“Putri Siti Ubi Syah adalah anak orang mulia, cucu orang mulia, keturunan orang mulia. Mari kita muliakan makamnya sebagaimana kita menghargai sejarah dan warisan peradaban Aceh yang agung,” pungkas Cut Putri.







