Home Opini Negeri Empat Pintu Angin: Di Persimpangan Arah dan Nilai
Opini

Negeri Empat Pintu Angin: Di Persimpangan Arah dan Nilai

Share
Negeri Empat Pintu Angin: Di Persimpangan Arah dan Nilai
Ilustrasi Lokasi Kerajaan Aceh | Dok. Kompas.com/Reddit
Share

Konon ada sebuah negeri bernama Negeri Empat Pintu Angin. Negeri yang dahulu dikenal elok, teduh, dan beradab. Udara di sana sejuk oleh doa, adatnya dijaga oleh nilai, dan masyarakatnya hidup dalam ketaatan yang menjadi kebanggaan. Negeri ini pernah menjadi simbol keharmonisan antara agama, akal, dan budaya.

Namun kini, arah negeri itu tampak kabur. Dalam beberapa dekade terakhir, Negeri Empat Pintu Angin dilanda kebingungan moral dan sosial. Tafsir agama menjadi bahan pertentangan, bukan pencerahan. Rakyat yang dulu bersatu dalam kepatuhan kini terpecah oleh tafsir dan kepentingan. Fatwa yang seharusnya menjadi penerang justru sering memperlebar jarak antar kelompok.

Baca juga: Mualem Lantik 1.184 PPPK Tahap II Formasi 2024

Syariat yang dahulu menjadi ruh peradaban kini berjalan tanpa arah yang jelas. Modernisasi datang tanpa kesiapan nilai, sementara tradisi bertahan tanpa inovasi. Akibatnya, negeri ini kehilangan keseimbangan: di satu sisi ingin mempertahankan kemurnian masa lalu, di sisi lain harus berhadapan dengan realitas sosial yang terus berubah. Dalam pusaran itu, banyak yang kehilangan arah pandang, tidak tahu mana yang prinsip, mana yang hanya simbol.

Fenomena sosial di negeri ini semakin rumit. Penolakan demi penolakan terhadap seni, budaya, dan ekspresi publik menjadi pemandangan yang berulang. Segala hal yang berbau “baru” sering dianggap ancaman terhadap agama, padahal tidak semua perubahan adalah penyimpangan. Ketegangan antara moralitas dan modernitas membuat ruang sosial menjadi sempit, dan masyarakat kehilangan keberanian untuk berdialog secara terbuka.

Baca juga: Persiraja Banda Aceh Tundukkan Persekat Tegal 1-0

Di sisi lain, romantisme masa lalu kerap menjadi pelarian. Banyak yang ingin mengembalikan kejayaan lama, masa raja-raja dan ulama besar, ketika hidup tampak tertib dan suci. Namun zaman tidak bisa diputar kembali. Masyarakat modern menuntut adaptasi, bukan nostalgia. Ketika masa lalu dijadikan pijakan tanpa pembaruan, yang lahir hanyalah kebekuan berpikir.

Negeri Empat Pintu Angin kini berdiri di persimpangan, antara ketaatan yang kaku dan kemajuan yang belum siap diterima. Antara ingin tampak religius, tapi sering kehilangan esensi nilai agama itu sendiri, keadilan, kasih sayang, dan kebijaksanaan. Dalam situasi seperti ini, ulama dan cendekiawan semestinya hadir bukan hanya sebagai pengingat moral, tetapi juga sebagai penuntun arah sosial yang bijak dan adaptif.

Baca juga: Budi Arie Kembali Pimpin Projo

Masyarakat pun perlu berani menata ulang cara berpikirnya. Agama tidak boleh dijadikan alat penghakiman, melainkan sumber inspirasi untuk membangun peradaban. Syariat bukan sekadar seremonial, tapi harus menjiwai sistem sosial, ekonomi, dan pemerintahan. Jika tidak, Negeri Empat Pintu Angin hanya akan terus sibuk berdebat tentang bentuk, sementara isinya kosong.

Harapan masih ada. Negeri ini memiliki sejarah panjang kebijaksanaan, kearifan lokal, dan tokoh-tokoh yang tulus. Selama rakyatnya mau belajar dari perbedaan dan menjadikan agama sebagai cahaya, bukan pagar, maka kesejukan angin dari empat penjuru itu akan kembali berembus. Saat itulah Negeri Empat Pintu Angin dapat menemukan kembali jati dirinya, bukan sebagai negeri yang bingung di persimpangan, melainkan negeri yang berjalan tegak menuju masa depan dengan iman, akal, dan keberanian.

Penulis: Dr. Usman Lamreung

Share