PUNCA.CO – Pemerintah Aceh memastikan proses belajar mengajar (PBM) di Kabupaten Gayo Lues tetap berlangsung meskipun wilayah tersebut masih dalam tahap pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda sejumlah kawasan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues, Basri, S.Pd., mengatakan secara umum aktivitas pendidikan pada jenjang SMA, SMK, dan SLB berjalan lancar setelah bencana.
“Secara keseluruhan proses belajar mengajar tetap berjalan. Namun, memang ada beberapa sekolah yang membutuhkan penanganan khusus,” ujar Basri, Sabtu (24/1/2026).
Baca juga: BBPOM Aceh Telusuri Peredaran Susu Formula S-26 Promil Gold di Banda Aceh dan Aceh Besar
Salah satu sekolah yang terdampak paling berat adalah SMAN 1 Pining. Sekolah tersebut sempat tertimbun lumpur dan material pasir akibat banjir dan longsor, serta mengalami keterputusan akses dari gampong menuju lokasi sekolah.
“Untuk SMAN 1 Pining, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan dalam kondisi khusus karena dampak bencana cukup berat. Namun pemerintah terus berupaya agar layanan pendidikan tetap berjalan,” jelasnya.
Basri menyebutkan, dari total 21 sekolah SMA, SMK, dan SLB di Gayo Lues, sebanyak 210 siswa terdampak langsung bencana. Sebagian siswa mengalami kerusakan rumah bahkan kehilangan tempat tinggal, sehingga membutuhkan bantuan perlengkapan pendidikan.
Baca juga: Didampingi Wagub, Mendagri Beri Arahan Taruna dan Serahkan Bantuan di Aceh Tamiang
“Kebutuhan yang diperlukan antara lain seragam sekolah, sepatu, buku, dan perlengkapan belajar lainnya,” katanya.
Sebagai bagian dari percepatan pemulihan, pemerintah daerah bersama instansi terkait terus melakukan pendataan dan penyaluran bantuan pendidikan agar para siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran.
“Tujuannya agar tidak ada siswa yang tertinggal dalam proses belajar,” tambah Basri.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menginstruksikan seluruh satuan pendidikan di Aceh untuk memanfaatkan fleksibilitas penggunaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) Tahun 2026 bagi sekolah yang terdampak bencana hidrometeorologi.
Baca juga: Bawa 20 Pemain, Persiraja Lawan Persekat Besok
Kebijakan tersebut telah mendapat persetujuan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
“Kami mendorong sekolah memaksimalkan penggunaan dana BOSP untuk memenuhi kebutuhan pendukung pembelajaran, sehingga kegiatan belajar mengajar tetap berjalan optimal meski dalam keterbatasan infrastruktur,” ujar Murthalamuddin.
Ia menegaskan, pemerintah berkomitmen menjaga keberlangsungan pendidikan sebagai bagian penting dari pemulihan pascabencana.
“Pendidikan harus tetap berjalan dan menjadi sumber optimisme bagi masyarakat,” katanya.







