PUNCA.CO – Bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Utara tidak hanya merusak permukiman dan fasilitas pendidikan, tetapi juga mengancam masa depan pendidikan para siswa. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Bella Safira dan Asmaul Husna, siswi SMA Negeri 1 Baktiya, yang kini terancam tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Bella Safira, siswi kelas XI SMA Negeri 1 Baktiya, mengaku banjir telah merenggut hampir seluruh harta benda milik keluarganya. Bahkan termasuk tabungan yang ia tabung untuk persiapan kuliah kedepan.
Baca juga: Tim Tabur Kejati Aceh Tangkap DPO Kasus Penipuan di Bireuen
“Uang tabungan untuk kuliah sudah tidak ada lagi. Semua habis karena banjir,” ujar Bella, Jumat (31/1/2026).
Sebelum bencana, Bella berupaya menjaga prestasi akademiknya agar dapat melanjutkan pendidikan setelah lulus. Namun, kondisi pascabencana membuat proses belajar menjadi tidak maksimal. Kegiatan belajar mengajar saat ini masih berlangsung di kelas darurat dengan keterbatasan ruang dan fasilitas.
“Sekolah belum normal, kelas digabung, belajar jadi tidak maksimal. Kami takut tidak bisa lanjut kuliah,” katanya.
Baca juga: Mualem Instruksi Seluruh SKPA Perkuat Koordinasi dalam Penanganan Bencana
Hal serupa dialami Asmaul Husna, siswi kelas XII SMA Negeri 1 Baktiya, warga Desa Alue Bilie Geulumpang. Ia kehilangan seluruh perlengkapan sekolah akibat banjir dengan ketinggian air mencapai sekitar 2,5 meter.
“Seragam saya hilang semua. Alat tulis juga tidak ada lagi,” ujar Asmaul.
Padahal, saat bencana terjadi, Asmaul tengah mempersiapkan diri menghadapi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri Seleksi (SNMPTN), sebagai salah satu jalur masuk perguruan tinggi.
Kondisi sekolah yang belum sepenuhnya pulih turut memperberat proses belajar. Saat ini, satu ruang kelas darurat diisi hingga 35 siswa, bahkan beberapa kelas terpaksa digabung karena keterbatasan ruang belajar.
Baca juga: Aceh Masuki Tahap Transisi Darurat ke Pemulihan Bencana Selama 90 Hari
Tekanan ekonomi keluarga juga semakin berat. Asmaul berasal dari keluarga buruh tani, sementara lahan sawah yang menjadi sumber penghidupan keluarga ikut terdampak banjir. Bantuan PIP yang diterima pun terpaksa digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga.
“Sekarang yang penting saya bisa kuliah. Kalau dulu ingin ke luar Aceh, sekarang berharap bisa kuliah di Aceh saja,” katanya.







