PUNCA.CO – Pemerintah Kota Banda Aceh menargetkan perputaran ekonomi hingga Rp2 miliar dalam pelaksanaan Pekan Raya Ramadan dan Pekan QRIS 1447 Hijriah yang digelar selama 15 hari, mulai 27 Februari hingga 13 Maret 2026, di kawasan Pasar Aceh lama (shopping center) yang telah dirobohkan.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai momentum penguatan ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang terdampak bencana dan gangguan layanan beberapa waktu terakhir.
“Kita ingin mendorong perputaran ekonomi lebih tinggi dari tahun lalu. Pada Pekan QRIS sebelumnya, transaksi mencapai sekitar Rp1,5 miliar. Tahun ini kita targetkan bisa menembus Rp2 miliar,” ujar Illiza dalam konferensi pers, Kamis (26/2/2026).
Baca juga:Hadiri Rakor Kemendagri, Dek Fadh Pastikan Aceh Siap Sukseskan Program 3 Juta Rumah
Sebanyak 120 tenan UMKM dilibatkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari sektor kuliner hingga produk kreatif lainnya. Seluruh peserta difasilitasi secara gratis oleh pemerintah kota. Dari jumlah pendaftar yang membludak, panitia melakukan proses kurasi agar jenis produk yang ditampilkan beragam dan tidak saling tumpang tindih.
Menurut Illiza, kebijakan pembebasan biaya tenan merupakan bentuk dukungan konkret pemerintah terhadap UMKM yang selama ini menghadapi tekanan, baik akibat bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Aceh maupun dampak pemadaman listrik dan kelangkaan gas yang sempat mengganggu aktivitas usaha.
“Melalui event ini, kita berharap para pelaku UMKM bisa bangkit kembali dan mendapatkan ruang promosi serta peningkatan omzet,” katanya.
Baca juga: Mudik Gratis 1447 H Dibuka, 25 Rute Disiapkan untuk Ringankan Beban Warga
Kegiatan ini turut menggandeng sejumlah mitra strategis. Bank Pegadaian menjadi sponsor utama Pekan Raya Ramadan, sementara Pekan QRIS didukung oleh Bank Indonesia serta disponsori oleh Bank Syariah Indonesia (BSI), BTN, Bank Aceh, dan sejumlah pihak lainnya.
Illiza menegaskan kolaborasi multipihak menjadi kunci agar kegiatan tersebut berjalan lancar sekaligus memberi dampak nyata bagi perekonomian lokal. Selain transaksi langsung di lokasi, efek ekonomi juga diperkirakan bergerak pada sektor lain seperti transportasi, distribusi bahan baku, hingga jasa pendukung kegiatan.
“Ini bukan hanya soal jual beli di lokasi acara, tapi juga menggerakkan rantai ekonomi secara lebih luas,” ujarnya.









