PUNCA.CO – India menjadi negara tujuan ekspor terbesar Aceh pada Juli 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat nilai ekspor Aceh ke negara tersebut mencapai USD63,05 juta atau sekitar 75,02 persen dari total ekspor Aceh pada periode tersebut.
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan secara keseluruhan nilai ekspor Aceh pada Juli 2026 mencapai USD84,04 juta. Dari jumlah itu, sebagian besar dikirim ke India dengan komoditas utama berupa batubara, minyak kelapa sawit mentah (CPO), dan produk kimia.
“Tujuan ekspor terbesar Aceh pada Juli 2026 adalah India dengan nilai USD63,05 juta atau 75,02 persen dari total ekspor,” ujar Agus Andria, Rabu (2/9/2026).
Baca juga: Lembaga Wali Nanggroe Sosialisasikan Qanun Pageu Nanggroe di Kampus UTU
Selain India, ekspor Aceh juga menyasar sejumlah negara lain. Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar kedua dengan nilai USD10,19 juta, terutama untuk komoditas kopi dan rempah-rempah. Kemudian Thailand dengan nilai ekspor USD3,13 juta, yang berasal dari komoditas batubara, daging dan ikan olahan, serta kopi dan rempah-rempah.
Dari sisi komoditas, batubara menjadi penyumbang terbesar ekspor Aceh pada Juli 2026 dengan nilai USD53,18 juta atau sekitar 63,29 persen dari total ekspor.
Meski ekspor mengalami penurunan sebesar 1,49 persen dibandingkan Juni 2026, perdagangan luar negeri Aceh masih mencatatkan surplus. Nilai ekspor Aceh pada Juli tercatat lebih tinggi dibandingkan impor yang mencapai USD81,89 juta, sehingga neraca perdagangan mengalami surplus sebesar USD2,15 juta.
Baca juga: Kantongi Izin, UIN Ar-Raniry Resmi Buka Program Studi Kedokteran
Agus menjelaskan, sebagian besar ekspor komoditas asal Aceh dilakukan melalui pelabuhan di wilayah Aceh dengan nilai USD68,31 juta atau sekitar 81,29 persen dari total ekspor. Sementara sebagian lainnya dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain, terutama Sumatera Utara dengan nilai USD15,71 juta.
Sementara itu, nilai impor Aceh pada Juli 2026 didominasi oleh komoditas gas propana/butana dengan nilai USD56,88 juta. Negara asal impor terbesar adalah Amerika Serikat dengan komoditas utama berupa gas butana/propana, disusul Rusia dengan impor pupuk senilai USD11,63 juta, serta Tiongkok sebesar USD9,77 juta berupa mesin atau pesawat mekanik dan pupuk.
Kinerja perdagangan tersebut menunjukkan India masih menjadi pasar utama bagi produk ekspor Aceh, terutama komoditas berbasis sumber daya alam.










