PUNCA.CO – Setelah banjir besar yang sempat merendam sebagian wilayah Kabupaten Aceh Tamiang, senyum dan tawa anak-anak di daerah perbatasan Aceh-Sumatera Utara itu sempat memudar. Namun, seiring berjalannya waktu, suasana ceria perlahan kembali terdengar.
Pada Kamis, 18 Juni 2026, puluhan pemuda dari berbagai daerah di Aceh yang tergabung dalam program Aksi Nyata Pemuda Aceh Tahun 2026 yang digagas Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Aceh hadir di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 7 Aceh Tamiang. Kehadiran mereka membawa semangat dan keceriaan bagi para siswa yang terdampak banjir.
Baca juga: Usai di Aceh Utara, Kegiatan Aksi Nyata Pemuda Aceh Berlanjut di MIN 7 Aceh Tamiang
Dengan persiapan yang matang serta didampingi tim psikolog, para pemuda mengajak siswa-siswi untuk sejenak melupakan trauma akibat bencana melalui berbagai kegiatan edukatif dan rekreatif. Mereka bernyanyi bersama, menggambar, membuat yel-yel, hingga merakit dan menerbangkan pesawat kertas.
“Syuiii-syuiii,” seru para siswa sambil melepaskan pesawat kertas buatan mereka ke udara.
“Hore, tepuk tangan untuk kita semua,” ujar para psikolog yang mendampingi rangkaian kegiatan psikososial tersebut.
Baca juga: Penuhi Undangan Kemendagri, Pemerintah Aceh Bahas Tujuh Poin Inti Revisi UUPA
Meski tampak sederhana, kegiatan itu memberikan dampak positif terhadap kondisi emosional anak-anak. Sejumlah pihak turut memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Hadir dalam kesempatan itu antara lain Kepala Bidang Pengembangan Pemuda Dispora Aceh, pihak sekolah, unsur Forkopimcam, serta Ketua DPRK Aceh Tamiang.
Ketua DPRK Aceh Tamiang, Fadlun, yang membuka kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia berharap kegiatan berjalan lancar dan mengucapkan terima kasih kepada para pemuda Aceh yang telah meluangkan waktu untuk hadir dan berbagi kebahagiaan dengan masyarakat Aceh Tamiang.
Baca juga: Buka Kegiatan Aksi Nyata Pemuda Aceh di SDN 1 Baktiya, Masri Amin Sebut Siswa Aset Tak Ternilai
Di sisi lain, seorang relawan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, sebut saja Agam, turut berbagi kisah masa kecilnya saat menjadi korban tsunami Aceh pada 2004. Pengalaman itu, menurutnya, membuat ia memahami kondisi psikologis anak-anak yang saat ini sedang berusaha bangkit dari dampak banjir.
“Dulu saya juga pernah mengalami masa-masa sulit setelah tsunami. Karena itu saya tahu bagaimana rasanya. Datang dan menghibur mereka adalah langkah yang tepat, terlebih jika bisa membawa sesuatu yang bermanfaat bagi mereka,” ujarnya.
Baca juga: Prabowo Batalkan Hadiri KTT Rusia-ASEAN 2026, Fokus Selesaikan Agenda Dalam Negeri
Musibah dapat datang kapan saja dan tidak mengenal tempat. Namun kehidupan harus terus berjalan dan semangat untuk bangkit perlu terus dijaga.
Kehadiran para pemuda Aceh di Aceh Tamiang mungkin tidak dapat menghapus seluruh dampak yang ditinggalkan bencana, tetapi setidaknya mampu menghadirkan semangat baru bagi anak-anak untuk kembali belajar, bermain, dan tersenyum.
“Satu hal yang ingin kami sampaikan, mereka tidak sendiri,” kata Agam.










