PUNCA.CO – Serangan drone Ukraina ke sejumlah wilayah Rusia memicu kebakaran di terminal ekspor minyak dan depot bahan bakar, sekaligus memperuncing ketegangan diplomatik antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy terkait sanksi terhadap Moskow serta upaya mengakhiri perang.
Dilansir CNBC Indonesia (19/10/2026), Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim telah menghancurkan 1.015 drone Ukraina di 15 wilayah Rusia, Krimea, dan Laut Hitam pada Minggu. Sementara itu, Gubernur St. Petersburg Alexander Beglov melaporkan satu orang tewas dan lima lainnya terluka akibat serangan di wilayah tersebut.
Serangan juga menyasar pusat logistik milik peritel Ozon dan pusat data yang dioperasikan perusahaan teknologi VK. Peristiwa ini terjadi ketika Washington dan Kyiv berbeda pandangan mengenai tekanan ekonomi terhadap Rusia.
Baca juga: Partai Aceh Ajak Kader Muda Bergerak Perhatikan Kesehatan dan Lingkungan Hidup
Trump membela keputusannya menunda pemberlakuan sanksi baru terhadap Moskow. Ia beralasan tidak ingin mengambil tindakan yang justru membuat Rusia menjauh dari perundingan untuk mengakhiri perang.
“Saya bisa menandatanganinya nanti, atau kapan pun saya mau!” tulis Trump di media sosial. Ia juga menuding Zelenskyy tidak menginginkan berakhirnya perang karena Ukraina terus menyerang infrastruktur energi Rusia.
Sebaliknya, Zelenskyy memperingatkan bahwa pelonggaran sanksi dapat meningkatkan kemampuan Rusia untuk melanjutkan agresi militernya. Dalam wawancara dengan NBC, ia menyebut keberpihakan Washington kepada Moskow sebagai “kesalahan bersejarah”.
Baca juga: Diduga Hendak Dijual ke Aceh Barat Daya, 640 Liter Solar Subsidi Disita Polisi
“Dia adalah seorang agresor. Dia menduduki wilayah kami. Dia membunuh orang dewasa dan anak-anak,” ujar Zelenskyy, merujuk pada Presiden Rusia Vladimir Putin.
Zelenskyy juga menuduh Rusia terus menyerang infrastruktur energi Ukraina meskipun Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan “gencatan senjata energi” pada 11 Oktober. Menurut Zelenskyy, Rusia telah melancarkan 76 serangan terhadap sektor energi, minyak, dan gas Ukraina dalam sepekan setelah pengumuman tersebut.
Serangan terbaru di empat wilayah Ukraina menyebabkan puluhan ribu keluarga kehilangan akses listrik. Melalui platform X, Zelenskyy meminta Washington mencermati tindakan Rusia setelah adanya pelonggaran sanksi dan kesepakatan diplomatik.
Baca juga: Empat Nelayan Diamankan dari Kapal di Lampulo, Polisi Dalami Temuan Diduga Narkotika
“Amerika harus melihat bahwa Rusia tidak mengambil langkah timbal balik apa pun sebagai tanggapan atas pelonggaran sanksi atau kesepakatan yang ada,” tulis Zelenskyy melalui platform X.
Dampak perang juga terlihat di Zaporizhzhia, Ukraina selatan. Serangan Rusia di wilayah tersebut menewaskan seorang perempuan dan melukai sejumlah orang, termasuk seorang anak perempuan berusia enam tahun.
Di luar wilayah konflik utama, Kementerian Luar Negeri Ukraina menyampaikan permintaan maaf kepada Lithuania setelah sebuah drone memasuki wilayah udara negara itu dan merusak mobil yang sedang melaju. Kyiv menduga drone tersebut menyimpang akibat gangguan sistem peperangan elektronik Rusia.
Baca juga: Pendidikan Politik Partai Aceh Angkat Isu Kesehatan dan Lingkungan Hidup
Di tengah meningkatnya ketegangan, Zelenskyy menyatakan komunikasi intelijen antara Amerika Serikat dan Ukraina kembali berjalan setelah sempat mengalami hambatan.
Ia juga mengungkapkan telah berbicara dengan utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner, mengenai hasil pertemuan tim negosiasi kedua negara di Miami pada 9 Oktober serta langkah diplomasi selanjutnya.
Meski komunikasi diplomatik kembali berlangsung, perbedaan pandangan mengenai sanksi dan serangan terhadap infrastruktur energi masih menjadi tantangan dalam upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina.










