PUNCA.CO – Harga emas kembali menguat setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir. Kenaikan tersebut terjadi seiring pelemahan dolar Amerika Serikat dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Mengacu data Refinitiv, harga emas pada penutupan perdagangan Kamis (30/4/2026) berada di level US$ 4.621,59 per troy ons, naik 1,76%. Penguatan tersebut terjadi setelah emas sebelumnya terkoreksi selama tiga hari berturut-turut dengan penurunan mencapai 3,55%.
Baca juga: Dek Fadh Silaturrahmi dengan Abu Paya Pasi, Perkuat Sinergi Ulama dan Umara
Tren kenaikan harga emas masih berlanjut pada awal perdagangan, Jumat (1/5/2026). Hingga pukul 06.46 WIB, harga emas tercatat naik 0,24% ke posisi US$ 4.632,80 per troy ons.
Penguatan harga emas dipengaruhi oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY). Kondisi ini dipicu oleh sinyal dari otoritas moneter Jepang yang berencana melakukan intervensi guna menstabilkan nilai tukar yen. Pelemahan dolar membuat emas lebih terjangkau bagi investor global yang menggunakan mata uang selain dolar.
Di sisi lain, harga minyak dunia yang sebelumnya sempat menyentuh US$ 126 per barel mulai mengalami koreksi tipis. Meski demikian, kekhawatiran terhadap inflasi energi masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar komoditas.
Baca juga: Pemerintah Bentuk Satgas Mitigasi PHK
Dari perspektif fundamental, penguatan harga emas masih dibatasi oleh kebijakan suku bunga tinggi. Data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat menunjukkan kenaikan sebesar 0,7% pada bulan lalu, yang menjadi laju tercepat sejak pertengahan 2022.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa inflasi tetap tinggi, terutama di tengah ketegangan geopolitik di Iran. Situasi tersebut berpotensi mendorong bank sentral seperti Federal Reserve dan Bank of England untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat atau bahkan meningkatkan suku bunga.
Dalam kondisi suku bunga tinggi, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai cenderung berkurang. Hal ini karena investor memiliki alternatif investasi lain yang menawarkan imbal hasil bunga lebih tinggi.
Meski demikian, prospek jangka panjang emas masih dinilai positif. Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta risiko inflasi global menjaga peran emas sebagai aset safe haven.
Proyeksi dari Citi menunjukkan harga emas berpotensi bertahan di kisaran US$ 4.300 dalam jangka pendek, dengan peluang meningkat hingga US$ 5.000 dalam periode 6 hingga 12 bulan mendatang.
Secara keseluruhan, pergerakan harga emas masih dibayangi volatilitas tinggi. Meski mencatat penurunan bulanan sekitar 0,84%, tarik-menarik antara risiko inflasi dan ketegangan geopolitik.







