PUNCA.CO – Kabar duka datang dari Aceh. Mantan Gubernur Aceh periode 2012–2017, dr. H. Zaini Abdullah, meninggal dunia pada Sabtu (13/6/2026) dini hari.
Berdasarkan informasi yang diterima dari Fadhillah Isa (Cek Fadil) mantan Adc-nya, Zaini Abdullah mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 12:26 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh. Sebelumnya, tokoh yang akrab disapa Abu Doto itu diketahui sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit tersebut sejak Mei 2026.
Kepergian Zaini Abdullah menjadi kehilangan besar bagi masyarakat Aceh. Selain dikenal sebagai mantan gubernur, ia juga merupakan salah satu tokoh penting dalam perjalanan politik dan perdamaian Aceh pascakonflik.
Baca juga: Pemerintah Bakal Tata Ulang Program MBG
Menurut informasi keluarga, jenazah almarhum akan dimandikan di RSUDZA Banda Aceh. Selanjutnya, jenazah akan dishalatkan di Masjid Raya Baiturrahman sebelum diberangkatkan ke kampung halamannya untuk dimakamkan di Gampong Rapana, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie.
dr. Zaini Abdullah lahir di Beureunuen, Kabupaten Pidie, Aceh, pada 24 April 1940. Berprofesi sebagai dokter, ia menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara sebelum terjun dalam dunia politik dan perjuangan Aceh.
Dalam perjalanan kariernya, Zaini dikenal sebagai salah satu tokoh senior Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan menjadi orang dekat pendiri GAM, Hasan di Tiro. Ia pernah menetap di Swedia selama masa konflik Aceh dan terlibat dalam berbagai proses diplomasi serta perundingan damai antara GAM dan Pemerintah Indonesia.
Baca juga: ASDP Tanggung Seluruh Biaya Korban KMP Aceh Hebat 2
Pasca-perdamaian Helsinki, Zaini Abdullah bersama Muzakir Manaf memenangkan Pilkada Aceh 2012 dan dilantik sebagai Gubernur Aceh pada 25 Juni 2012. Ia memimpin Aceh hingga 2017 dan menjadi salah satu figur sentral dalam masa transisi pembangunan serta konsolidasi perdamaian di provinsi tersebut.
Semasa hidupnya, Zaini Abdullah dikenal luas sebagai tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah politik modern Aceh, baik sebagai dokter, pejuang, maupun pemimpin daerah. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Aceh dan para sahabat perjuangannya.










