PUNCA.CO – Guru honorer bernama Atrianil menjadi perhatian publik setelah video yang memperlihatkan pembukaan amplop gaji terakhirnya viral di TikTok. Dalam video tersebut, perempuan yang dikenal dengan nama pena Bu Ijah itu menunjukkan penghasilan sebesar Rp414.000 setelah empat dekade mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik.
Dilansir Kompas.com (28/6/2026), Ia telah resmi pensiun pada 23 Juni 2026 setelah mengajar selama 31 tahun di sebuah SMK swasta di Jakarta Barat. Total masa pengabdiannya sebagai guru mencapai 40 tahun sejak memulai karier pada April 1986.
Atrianil menjelaskan, gaji guru honorer sebesar Rp414.000 itu dihitung berdasarkan jumlah jam mengajar. Pada tahun terakhirnya, ia sengaja mengurangi jadwal mengajar menjadi dua hari setiap pekan agar masa pengabdiannya genap empat dekade.
Baca juga: Lima Peserta SPPI 2026 Meninggal, Berikut Penyebab Versi Kemhan RI
“Tahun kemarin masih tiga hari. Saya memang sudah niat mau mencukupkan 40 tahun mengabdi. Jadi sebulan itu delapan kali pertemuan, atau kalau minggu panjang bisa sepuluh kali,” kata Atrianil.
“Gaji Rp 414.000 itu sudah total, sudah termasuk tunjangan mengajar dan uang transpor. Tidak usah dirincilah per jamnya, malu nanti,” tambah Atrianil.
Sepanjang menjadi guru, Atrianil mengaku pernah memiliki peluang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun kesempatan itu ditolaknya karena diminta memberikan uang pelicin sebesar Rp5 juta pada awal 2000-an.
Baca juga: Juli-September Diprediksikan Jadi Puncak Musim Kemarau 2026
“Saya tidak mau membohongi hati nurani. Guru agama saya dulu bilang uang sogokan, baik yang memberi maupun menerima, sanksinya sama di hadapan Allah,” tegas Atrianil.
Prinsip tersebut juga membuatnya tidak mengikuti program Guru Bantu karena enggan memalsukan dokumen administrasi yang tidak sesuai dengan tempatnya mengajar.
Menurut Atrianil, kesejahteraan guru honorer semakin berat dalam tiga tahun terakhir setelah bantuan hibah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp500.000 hingga Rp550.000 per triwulan dihentikan bagi guru berusia di atas 60 tahun. Meski keluarganya masih dapat membantu, ia mengaku prihatin terhadap guru honorer lain yang tidak memiliki kondisi serupa.
Baca juga: Laga Piala Dunia Malam Ini, Inggris, Portugal, dan Argentina Bakal Hadapi Laga Penutup Fase Grup
“Saya beruntung jadi guru Jakarta, anak saya mungkin walaupun hidup makan seadanya masih bisa membantu. Tapi bagaimana dengan guru-guru yang sudah mengabdi lama di luar sana, di daerah, di seluruh Nusantara ini?” kata Atrianil.
Ia berharap pemerintah memberikan bentuk penghargaan bagi guru non-ASN yang telah mengabdi puluhan tahun. Selain itu, Atrianil juga mengabadikan perjuangan para guru honorer melalui novel ‘Lentera Putih’. Kisah Sebuah Pengabdian yang terbit pada 2011 dan masih menyimpan tujuh naskah lain yang ingin diterbitkan.
Di akhir pesannya, Atrianil mengajak masyarakat menghargai profesi guru honorer dan tidak lagi menggunakan sebutan yang bernada merendahkan di media sosial.
Baca juga: Gempa Guncang Venezuela, 920 Orang Tewas dan 3.300 Luka-luka
“Janganlah memakai kata ‘oh honorer’, kayaknya meremehkan sekali. Nyesek rasanya, kata ‘oh’-nya itu menusuk di dada. Kalau ditilik mendalam, bukannya sistem yang salah? Bukannya sistem yang membiarkan?” tutup Atrianil.






