PUNCA.CO – Serangan Iran terhadap Bahrain dan Kuwait terjadi setelah Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran untuk malam ketujuh berturut-turut pada Jumat (17/7/2026). Kedua negara sekutu AS di kawasan Teluk itu menjadi sasaran rudal dan pesawat nirawak dalam rangkaian serangan balasan Teheran.
Dilansir dari Tribunnews.com (18/7/2026), Di Kuwait, pemerintah melaporkan salah satu fasilitas pembangkit listrik dan penyulingan air kembali menjadi target serangan pada Sabtu (18/7/2026). Insiden tersebut menyebabkan beberapa unit pembangkit listrik tidak dapat beroperasi, sehari setelah serangan serupa dilaporkan.
“Pembangkit listrik dan penyulingan air lainnya menjadi sasaran serangan musuh yang menyebabkan kebakaran di salah satu komponen pembangkit tersebut, yang mengakibatkan dinonaktifkannya beberapa unit pembangkit listrik,” kata Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait.
Baca juga: Wali Nanggroe Usulkan Aceh Jadi Pilot Project Pengadilan Niaga Syariah Nasional
Dampak serangan juga memengaruhi aktivitas penerbangan. Kuwait Airways pada Sabtu mengumumkan telah menjadwal ulang sebagian besar penerbangannya setelah Bandara Internasional Kuwait sempat menghentikan operasional untuk sementara.
Sementara itu, Bahrain kembali mengaktifkan sirene peringatan udara untuk kedua kalinya pada Sabtu setelah mendeteksi potensi ancaman rudal atau drone. Warga diminta segera berlindung.
“Sistem pertahanan udara menggagalkan serangan-serangan tersebut,” kata Militer Bahrain.
Baca juga: Pemerintah Aceh Pacu Pemulihan Akses Kawasan Lokop
Seraya menambahkan bahwa sejumlah rudal dan drone Iran berhasil dicegat serta dihancurkan. Seorang jurnalis AFP di Manama juga melaporkan mendengar beberapa ledakan setelah sirene berbunyi.
Selain Bahrain dan Kuwait, Iran juga meluncurkan serangan rudal ke Qatar pada Jumat (17/7/2026). Warga di negara itu dilaporkan mendengar ledakan ketika sistem pertahanan udara berupaya mencegat rudal yang datang.
Menurut AP News, Kementerian Dalam Negeri Qatar menyebut puing-puing yang jatuh mengakibatkan seorang anak mengalami luka. Qatar bersama Pakistan sebelumnya berperan sebagai mediator dalam upaya mengakhiri konflik, namun pembicaraan disebut gagal di tengah ketegangan terkait Selat Hormuz.
Baca juga: Perampok Bersenjata Gasak Toko Emas di Tapaktuan dan Berhasil Kabur
Pada waktu yang sama, militer Yordania mengaku mencegat tiga rudal Iran. Ledakan juga terdengar di Irbil dan Sulaymaniyah, wilayah Kurdi semi-otonom di Irak utara, ketika sistem pertahanan udara merespons serangan yang datang.
Di sisi lain, AS terus memperluas operasi militernya dengan menyerang sejumlah target di Iran, termasuk kawasan sekitar Teheran serta beberapa provinsi lain seperti Semnan, Hamedan, Hormozgan, Khuzestan, Lorestan, Markazi, dan Sistan-Baluchistan. Menurut pejabat Iran, serangan tersebut menewaskan lebih dari 35 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Ketegangan juga berdampak pada jalur pelayaran internasional. Militer Inggris melaporkan sebuah kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz mengalami kerusakan ringan akibat serangan saat berlayar di rute dekat Oman, meski tidak ada awak kapal yang menjadi korban.





