Home Internasional Amerika Serikat Pilih Jeda Konflik dengan Iran Hingga Usai November
Internasional

Amerika Serikat Pilih Jeda Konflik dengan Iran Hingga Usai November

Share
Amerika Serikat Pilih Jeda Konflik dengan Iran Hingga Usai November
Kapal induk Amerika Serikat USS Nimitz. | Dok. U.S. Navy
Share

PUNCA.CO – Perang AS-Iran kembali menghadapi ancaman eskalasi setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat dalam aksi saling serang. Di tengah meningkatnya ketegangan, Gedung Putih disebut berupaya menahan perluasan konflik hingga pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada November.

Melansir CNBC Indonesia (3/9/2026), sejumlah pejabat Gedung Putih dilaporkan baru akan mempertimbangkan peningkatan aksi militer setelah pemungutan suara pada 3 November mendatang. Untuk sementara, Washington memilih mengandalkan tekanan ekonomi guna mendorong Iran memberikan konsesi dalam negosiasi.

“Kami terus menekan Iran, tetapi November adalah prioritas.” kata Pejabat Gedung Putih.

Baca juga: Trump Ingin Danau Ontario Ganti Nama Jadi Danau Amerika, Kanada Menolak

Strategi menahan eskalasi dinilai berkaitan dengan kepentingan politik Partai Republik yang tengah berupaya mempertahankan mayoritas tipis di Senat dan DPR. Jajak pendapat Reuters/Ipsos pada akhir Agustus menunjukkan hanya 31% warga Amerika yang mendukung perang, sedangkan 63% menyatakan penolakan.

Selain faktor politik, jeda konflik juga dapat memberikan kesempatan bagi militer AS untuk mengisi kembali persediaan amunisi yang semakin berkurang.

Namun, upaya meredam konflik AS-Iran menghadapi tantangan besar. Pada akhir pekan lalu, AS menyerang peluncur roket di Pulau Larak yang kemudian diikuti serangan rudal Iran ke Yordania dan Uni Emirat Arab.

Baca juga: AS Serang Dua Peluncur Iran di Pulau Larak, Ketegangan Selat Hormuz Memuncak

Washington kembali menyerang sejumlah target di sekitar Selat Hormuz pada Selasa. Bentrokan tersebut menjadi yang terbesar sejak Juli dan menyebabkan personel militer serta warga sipil di Iran tewas.

Analis memperkirakan Iran akan terus melakukan serangan berkala terhadap target AS dan negara-negara Teluk. Mantan pejabat senior Departemen Luar Negeri AS untuk Timur Tengah, Barbara Leaf, menilai Iran memiliki alasan untuk terus memberikan tekanan militer.

“Rezim memiliki setiap insentif untuk mengganggu ‘ketenangan’, yang sebenarnya bukan ketenangan, karena tujuan eksplisit pemerintah adalah meningkatkan tekanan ekonomi secara besar-besaran terhadap Iran.” kata Leaf.

Baca juga: Iran Tak Gentar Hadapi Anacaman Sanksi AS, Sebut Washington Mulai Putus Asa

Presiden Donald Trump juga menjadi faktor yang sulit diprediksi. Tingkat persetujuannya disebut turun dari 40% menjadi 33% sejak konflik dimulai.

Meski Trump disebut tidak menginginkan eskalasi saat ini, ia tetap mengancam akan memberikan respons lebih keras jika Iran membalas serangan AS.

Pada Rabu, Trump menyatakan operasi militer tersebut tidak akan berlangsung lama. Ia juga membantah bahwa pemilu memengaruhi strategi pemerintahannya dalam menghadapi Iran.

Baca juga: Dituduh Terima Fee Proyek Bencana, Mantan Sekda M. Nasir Bakal Tempuh Langkah Hukum

“Nomor satu, saya tidak mencalonkan diri. Partai saya mencalonkan diri, dan saya akan membantu partai saya. Tetapi saya pikir partai saya menghargai fakta bahwa kita tidak membiarkan Iran memiliki senjata nuklir.” kata Trump.

Memasuki bulan ketujuh perang, Gedung Putih juga menghadapi kendala logistik dan politik. Seorang pejabat senior bahkan mengakui adanya perubahan jadwal.

“Jadwal waktu telah berubah. Kalender mengendalikan Iran,” kata Seorang pejabat senior.

Baca juga: India Jadi Tujuan Terbesar Ekspor Aceh, Capai USD63 Juta pada Juli 2026

The Washington Post melaporkan bahwa pimpinan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara AS telah memperingatkan Kepala Pentagon Pete Hegseth mengenai risiko memperpanjang perang terhadap kesiapan militer AS di wilayah lain.

Sementara itu, Gedung Putih tetap membela kebijakan Trump. Juru bicara Olivia Wales menegaskan pemerintah akan terus mempertahankan kepentingan AS dan mencegah Iran memiliki senjata nuklir.

Sekutu AS di kawasan Teluk sebelumnya juga mendorong penurunan ketegangan. Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio termasuk pejabat yang mendukung upaya menjaga konflik tetap terkendali hingga November.

Baca juga: Lembaga Wali Nanggroe Sosialisasikan Qanun Pageu Nanggroe di Kampus UTU

Namun, tekanan ekonomi terhadap Iran dinilai memiliki keterbatasan karena negara tersebut telah menghadapi sanksi selama puluhan tahun. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan memperingatkan tekanan ekonomi dapat mendorong Iran mengambil tindakan militer.

Kebijakan isolasi tersebut juga menghadapi tantangan dari China yang menolak bergabung dalam upaya mengisolasi Iran. Rekan senior Atlantic Council, Alex Plitsas, mempertanyakan efektivitas paket sanksi baru Washington.

“Tujuan paket sanksi baru ini adalah untuk menambah tekanan ekonomi di atas tekanan yang disebabkan oleh blokade untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan, setelah pemerintah menentukan bahwa itu adalah pilihan yang lebih baik daripada kembali ke aksi kinetik. Iran mengkhawatirkannya, tetapi China telah mengindikasikan bahwa mereka tidak bersedia bermain bola, yang mempertanyakan seberapa efektif hal itu nantinya.” kata Plitsas.

Share