PUNCA.CO – Konflik militer antara pemerintahan Donald Trump dan Iran yang telah berjalan selama enam bulan mulai dibandingkan dengan keterlibatan panjang Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak setelah serangan 11 September 2001.
Sejumlah analis memperingatkan bahwa perang tersebut dapat berubah menjadi konflik berkepanjangan yang sulit diakhiri.
Trump sebelumnya menjadikan janji perdamaian sebagai salah satu agenda utama dalam kampanye untuk masa jabatan keduanya. Ia bahkan menyatakan ingin dikenal sebagai “president of peace”, dengan komitmen mengakhiri perang di luar negeri alih-alih membuka konflik baru. Namun, menjelang 25 tahun peringatan serangan 9/11, pemerintahannya justru menghadapi perang yang dikhawatirkan berkembang menjadi bentuk baru dari forever war atau perang tanpa akhir.
Baca juga: Terima Demo Mahasiswa USK, Plt Sekda Aceh: Kami Tidak Eksklusif, Komunikasi Terbuka Setiap Saat
Dilansir Reuters (10/9/2026), konflik dengan Iran kembali memunculkan perdebatan mengenai pelajaran yang dapat dipetik dari pengalaman militer AS di masa lalu. Jika perang di Afghanistan dan Irak melibatkan pengerahan pasukan darat dalam jumlah besar untuk merebut dan menguasai wilayah, operasi terhadap Iran sejauh ini lebih banyak bertumpu pada kekuatan udara dan laut.
Serangkaian serangan memang telah melemahkan kemampuan militer dan perekonomian Iran. Namun, operasi tersebut belum mampu memaksa Iran menyerah ataupun mendorong masyarakatnya menggulingkan pemerintah, sebagaimana sempat diharapkan Trump. Perang pun berkembang menjadi konflik atrisi, dengan aksi saling serang yang terus berlangsung, termasuk serangan terhadap kapal-kapal tanker minyak.
Analis Center for International Policy, Sina Toossi, menilai langkah Trump telah menghapus salah satu batasan penting di Washington yang terbentuk setelah pengalaman perang Irak dan Afghanistan, yakni keengganan untuk kembali melancarkan perang besar di Timur Tengah tanpa batas waktu yang jelas.
Baca juga: Wagub Aceh Hadiri Rakorgub Se-Sumatera, Dorong Sumatera Jadi Satu Kekuatan Ekonomi
Menurut Toossi, situasi ini berpotensi membuat pemerintahan AS berikutnya harus menghadapi konflik Iran-Amerika yang semakin sulit diselesaikan dan telah mengakar lebih dalam.
Dampak Politik dan Ekonomi
Konflik dengan Iran tidak hanya menimbulkan persoalan militer, tetapi juga memberikan tekanan politik dan ekonomi bagi pemerintahan Trump. Gangguan terhadap distribusi minyak melalui Selat Hormuz telah menyebabkan harga bensin di AS meningkat. Pada saat yang sama, perang tersebut turut memengaruhi tingkat dukungan publik terhadap Trump serta citra Amerika Serikat di dunia internasional.
Sejumlah analis menilai pemerintahan Trump kurang mempertimbangkan berbagai konsekuensi yang pernah muncul dalam perang pasca-9/11. Salah satunya adalah risiko politik akibat konflik yang berlangsung terlalu lama, terlebih ketika pihak lawan memiliki kemampuan dan semangat yang kuat untuk mempertahankan pemerintahannya.
Baca juga: Revisi UUPA Jadi Usul Inisiatif Dewan, Mualem-Dek Fadh Apresiasi DPRI-RI
Operasi yang diberi nama “Operation Epic Fury” diluncurkan bersama Israel pada 28 Februari. Tidak seperti perang Afghanistan dan Irak, operasi terhadap Iran tidak dipicu oleh trauma nasional seperti yang terjadi setelah serangan 9/11. Karena itu, sejumlah pengkritik mengategorikannya sebagai perang yang dipilih secara sadar oleh pemerintah AS.
Dukungan dari negara-negara sekutu dalam konflik Iran juga dinilai lebih terbatas. Trump disebut mengambil keputusan untuk menyerang Iran dengan konsultasi yang minim sebelumnya. Di sisi lain, sejumlah pemimpin Eropa dan Asia menunjukkan keraguan untuk memenuhi permintaan Washington terkait dukungan terhadap operasi tersebut.
Analis asal Arab Saudi, Aziz Alghashian, yang dikutip Reuters, menggambarkan kondisi di kawasan Teluk sebagai adanya keterbatasan ruang gerak dan rasa tidak berdaya dalam menghadapi perang yang terjadi akibat keputusan Amerika Serikat.
Baca juga: Angin Kencang Mendadak Terbangkan Seluruh Atap Rumah Warga di Montasik
Meski mendapat banyak kritik, kebijakan Trump terhadap Iran tetap memperoleh dukungan dari sebagian pihak. Mark Dubowitz dari Foundation for Defense of Democracies membantah anggapan bahwa Trump telah membawa AS menuju perang tanpa akhir. Menurutnya, serangan terhadap Iran masih berpotensi berujung pada kemenangan bagi Amerika Serikat.
“Ini merupakan perang yang telah dikobarkan Republik Islam terhadap Amerika selama 47 tahun. Dan sekarang, kami telah melakukan serangan balik,” ujar Dubowitz.










