PUNCA.CO – Muhammad Al Hindawi, santri penghafal 30 juz Alquran dari Pondok Pesantren Al Imam Ashim, Makassar, Sulawesi Selatan, berhasil menemukan celah keamanan pada sistem milik National Aeronautics and Space Administration (NASA) Amerika Serikat dan University of Melbourne, Australia.
Dilansir CNN Indonesia (17/9/2026), santri kelas 12 tersebut menemukan tiga kerentanan berjenis SQL Injection. Dua celah ditemukan pada sistem NASA, sementara satu lainnya terdapat pada sistem University of Melbourne.
Temuan itu disampaikan melalui program resmi Vulnerability Disclosure Program (VDP) di platform Bugcrowd. Kerentanan yang dilaporkan kemudian divalidasi oleh tim keamanan siber dari masing-masing institusi.
Baca juga: Mualem Minta Bupati/Walikota se-Aceh Siap-siaga Potensi Bencana
Hindawi mengatakan dirinya baru beberapa bulan mempelajari keamanan siber secara otodidak.
“Saya baru sekitar empat hingga lima bulan mempelajari cybersecurity secara otodidak,” kata Hindawi, Rabu (16/9/2026).
Dalam proses menemukan celah keamanan tersebut, Hindawi terlebih dahulu melakukan pemetaan terhadap sistem yang menjadi target pengujian. Ia menggunakan sejumlah perangkat untuk mengumpulkan informasi mengenai subdomain dan memeriksa status respons sistem.
Baca juga: 10 Terpidana Pelanggar Syariat Islam Dicambuk di Banda Aceh
“Saat melakukan pemetaan (recon), awal mulanya saya menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain, lalu mengecek status response code-nya menggunakan httpx,” ungkapnya.
Setelah proses pemetaan, Hindawi mempersempit pencarian dengan menyaring sistem yang memiliki potensi kerentanan tertentu.
“Dari sana, baru saya cari sistem yang rentan terkena SQL injection,” jelasnya.
Baca juga: Hujan Deras Picu Banjir dan Longsor di Abdya, Ratusan Rumah Terendam
Atas temuan tersebut, Hindawi memperoleh Letter of Recognition (LOR) dari NASA. Ia juga mendapatkan konfirmasi validasi dari tim Cyber Operations University of Melbourne.
Perjalanan Hindawi di bidang cybersecurity bermula dari lingkungan pesantrennya sendiri. Sebelum menemukan celah keamanan pada sistem institusi global, ia lebih dahulu mengidentifikasi kerentanan pada sistem Pondok Pesantren Al Imam Ashim.
Hindawi mengembangkan kemampuan tersebut secara mandiri dengan memanfaatkan berbagai video tutorial serta membaca laporan riset dari peneliti keamanan siber yang dipublikasikan melalui Bugcrowd.
Baca juga: KKP Musnahkan Pakan dan Obat Ikan Ilegal serta Alat Tangkap Merusak di Banda Aceh
Kini, santri tersebut masih terus memperdalam kemampuan dalam mengidentifikasi kerentanan sistem dengan memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran daring secara mandiri.






