PUNCA.CO – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan menolak proposal gencatan senjata Iran selama tujuh hari yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembicaraan mengenai program nuklir Teheran.
Dilansir Kompas.com (26/9/2026), sejumlah pejabat AS menyebut Trump secara tertutup mengatakan kepada stafnya bahwa ia dapat kembali melakukan serangan terhadap Iran setelah pemilu sela AS pada November mendatang.
Usulan jeda pertempuran tersebut sebelumnya dibahas dalam pertemuan di Qatar pada Minggu (20/9/2026). Mediator Qatar bersama sejumlah negara kawasan kemudian berupaya menghidupkan kembali perundingan AS dan Iran di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
Baca juga: Wali Nanggroe Bawa Pengalaman Perdamaian Aceh ke Forum Internasional Global Town Hall 2026
Dalam proposal tersebut, Iran menawarkan membuka kembali Selat Hormuz dan memulai negosiasi terkait program nuklirnya. Sebagai imbalannya, Teheran meminta AS mencabut blokade laut, mencairkan sejumlah aset yang dibekukan, serta menghapus sanksi terhadap ekspor minyak Iran.
Namun, pejabat AS disebut telah menyampaikan kepada Iran dan para mediator bahwa Trump tidak berniat mencabut embargo maritim. Urgensi Washington untuk segera mencapai kesepakatan juga dinilai menurun setelah AS berhasil mengamankan pelayaran kapal tanker minyak di Selat Hormuz dari ancaman Iran, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Jum’at (25/9/2026).
Washington meyakini tekanan ekonomi dapat mendorong Teheran menyepakati perjanjian dengan persyaratan yang lebih menguntungkan bagi AS dan negara-negara Arab di Teluk Persia.
Baca juga: Anglo Siam Treaty Akar Masalah Konflik di Patani
Trump Skeptis terhadap Iran
Di depan publik, Trump menyatakan Iran tengah “mengemis” kesepakatan setelah pemilu sela untuk membongkar program nuklirnya. Namun, secara pribadi, dia disebut masih meragukan kesediaan Teheran memenuhi tuntutan AS.
Trump juga mempertimbangkan kemungkinan melanjutkan serangan, meski sejumlah pejabat mengatakan dia sebenarnya enggan kembali menjalankan operasi tempur berskala besar. Salah satu pertimbangannya adalah kebutuhan AS menghemat persediaan amunisi untuk menghadapi keadaan darurat lainnya.
Selama tujuh bulan konflik, sikap Trump disebut beberapa kali berubah, mulai dari mendorong diplomasi, memerintahkan serangan udara, hingga memperketat sanksi. Para pejabat menilai sikap tersebut masih dapat berubah, termasuk dipengaruhi perkembangan pemilu sela.
Baca juga: Dek Fadh Buka Diklat Laskar Gerindra Aceh
Dalam Sidang ke-81 Majelis Umum PBB di New York, Trump menegaskan keputusan AS terkait program nuklir Iran tidak dipengaruhi kepentingan politik.
“Partai Republik sedang berkompetisi, dan saya akan membantu mereka, tetapi saya tidak ikut berkompetisi. Saya sama sekali tidak memedulikannya (urusan politik) dan tidak akan memberikan ruang selama masa pemilihan ini jika menyangkut Iran,” ungkap Trump di hadapan para pemimpin dunia.
“Satu-satunya hal yang pasti adalah Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir,” sambungnya.
Baca juga: Tokoh Pers Aceh Sjamsul Kahar Meninggal Dunia, Pemerintah Aceh Sampaikan Belasungkawa
Di Iran sendiri, mediator Arab menyebut adanya perbedaan pandangan internal. Para diplomat Iran dilaporkan mengajukan sejumlah proposal untuk mengakhiri perang dan mengakui memburuknya kondisi ekonomi.
Namun, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menolak formula kesepakatan baru dan menyatakan siap menghadapi konflik jangka panjang. IRGC juga menginginkan persyaratan yang mendekati kesepakatan awal dengan Trump pada Juni.










