PUNCA.CO – Kegiatan Konsolidasi Pemuda Aceh Tahun 2026 yang digelar di Hotel Grand Nanggroe, Banda Aceh, menjadi ruang diskusi berbagai isu strategis terkait masa depan generasi muda di Aceh.
Forum yang berlangsung pada 19-20 April 2026 itu diikuti puluhan perwakilan organisasi kepemudaan dari berbagai elemen itu menghadirkan empat narasumber dengan tema berbeda, mulai dari arah kebijakan pembangunan kepemudaan, konsolidasi gerakan pemuda, kepemimpinan perempuan muda hingga aksi nyata pemuda di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh dalam materinya bertajuk “Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Kepemudaan Aceh” menegaskan bahwa pemuda harus menjadi aktor utama dalam pembangunan daerah.
Baca juga: Jemaah Tanpa Visa Tidak Akan Diberangkatkan pada Haji 2026
Menurutnya, bonus demografi yang dimiliki Aceh harus dimanfaatkan dengan baik melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kewirausahaan, serta pembangunan karakter kepemimpinan generasi muda.
“Pemuda harus hadir sebagai solusi atas persoalan daerah. Mereka harus dipersiapkan menjadi generasi yang unggul, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.
Sementara itu, narasumber Agam Nur Muhajir menyoroti masih terjadinya fragmentasi dalam gerakan kepemudaan di Aceh yang dinilai melemahkan kekuatan kolektif anak muda.
Dalam materi bertajuk “Konsolidasi Gerakan Pemuda: Dari Fragmentasi Menuju Kekuatan Kolektif,” ia mengatakan banyak organisasi pemuda masih berjalan sendiri-sendiri tanpa agenda bersama yang kuat.
Baca juga: Kloter Pertama Jemaah Haji 2026 Resmi Diberangkatkan dari Jakarta
“Pemuda terlalu sering terjebak pada sekat organisasi, kelompok, dan kepentingan kecil. Padahal tantangan Aceh membutuhkan kekuatan bersama,” kata Agam.
Di sisi lain, pemerhati perempuan Nur Afni menekankan pentingnya keterlibatan perempuan muda dalam pembangunan daerah.
Melalui materi “Peran Perempuan Muda dalam Kepemimpinan dan Pembangunan Aceh,” ia menyebut perempuan muda harus lebih berani mengambil ruang strategis dalam berbagai sektor.
“Perempuan muda harus percaya diri untuk tampil. Jangan membatasi diri pada stigma yang berkembang di masyarakat,” ujarnya.
Sementara narasumber Muhammad Khalis menyoroti pentingnya aksi nyata pemuda di tengah masyarakat.
Baca juga: Pemkab Pulau Buru Kirim 2.000 Botol Minyak Kayu Putih untuk Korban Bencana Aceh
Dalam materinya bertajuk “Suara Pemuda: Harapan, Peran, dan Aksi Nyata di Tengah Masyarakat,” ia menilai pemuda tidak boleh hanya aktif dalam forum diskusi, tetapi juga harus mampu memberi dampak langsung bagi masyarakat.
“Pemuda jangan hanya ramai di media sosial atau forum diskusi. Masyarakat menunggu kerja nyata,” katanya.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diharapkan mampu memperkuat kolaborasi lintas organisasi kepemudaan serta melahirkan gagasan konkret untuk mendukung pembangunan Aceh yang lebih maju dan berkelanjutan.








