PUNCA.CO – Sebagian siswa SD Negeri 10 Linge, Kabupaten Aceh Tengah, mulai meninggalkan tenda sebagai tempat belajar setelah empat unit Ruang Kelas Darurat (RKD) selesai dibangun di Desa Jamat.
Sebelumnya, selama berbulan-bulan siswa SDN 10 Linge harus mengikuti pembelajaran di bawah tenda setelah banjir menerjang Kecamatan Linge pada akhir 2025. Proses belajar dibagi di dua lokasi, yakni Tenda 01 di Desa Reje Payung dan Tenda 02 di Desa Jamat, untuk menyesuaikan akses siswa dari dua wilayah tersebut.
Kepala SDN 10 Linge, Nurdin, mengatakan keberadaan ruang kelas darurat menjadi solusi sementara agar siswa dapat belajar dalam kondisi yang lebih aman dan nyaman dibandingkan sebelumnya.
Baca juga: BBPOM Aceh Temukan Dugaan Boraks pada Tiga Sampel Kerupuk di Warung Kopi Banda Aceh
“Setidaknya anak-anak yang sebelumnya belajar di Tenda 01 sekarang dapat mengikuti pelajaran dengan lebih nyaman dibandingkan ketika masih berada di tenda,” ujar Nurdin, Jum’at (31/7/2026).
Ia menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung pembangunan fasilitas tersebut, mulai dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), MDMC Muhammadiyah, Dinas Pendidikan Aceh, hingga instansi terkait lainnya.
Menurut Nurdin, pihak sekolah sebelumnya mengusulkan pembangunan tujuh unit ruang kelas darurat untuk siswa di Tenda 01 dan empat unit untuk siswa di Tenda 02. Namun, baru empat unit yang telah terealisasi dan mulai digunakan.
Baca juga: Pelatihan Budi Daya Kakao Langsung di Kebun Petani Sabang
“Sementara untuk siswa di Tenda 02 masih menunggu pembangunan ruang kelas darurat agar seluruh peserta didik dapat belajar dalam kondisi yang lebih layak,” katanya.
Sekretariat Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Kemendikdasmen menyebut pemenuhan ruang kelas darurat menjadi salah satu prioritas pemulihan pendidikan di wilayah terdampak bencana Sumatra.
Berdasarkan pemetaan kebutuhan RKD tahun 2026 di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, terdapat kebutuhan sebanyak 343 ruang kelas darurat pada 106 satuan pendidikan. Hingga saat ini, sebanyak 313 RKD di 89 satuan pendidikan telah terpenuhi, sementara 30 RKD pada 17 satuan pendidikan masih dalam proses pemenuhan.
Baca juga: UIN Ar-Raniry Siap Buka Fakultas Kedokteran, Target Terima Mahasiswa Agustus 2026
Kebutuhan tersebut menjadi tindak lanjut arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah agar tidak ada lagi sekolah terdampak bencana di Sumatra yang menjalankan pembelajaran di bawah tenda.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, mengatakan pemulihan sarana pendidikan bukan hanya menyangkut pembangunan fisik, tetapi juga menjaga keberlanjutan proses belajar siswa.
“Kami berharap perbaikan sarana dan prasarana ini tidak hanya mengubah kondisi fisik bangunan sekolah, tetapi juga membangkitkan semangat belajar peserta didik dan mendorong peningkatan kualitas pendidikan,” ujarnya.
Baca juga: Limbah Uang Rupiah Tak Layak Edar Kini Jadi Bahan Bakar Alternatif Industri Semen
Sementara itu, Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra terus melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah, kementerian, dan mitra terkait untuk mempercepat penyediaan ruang kelas darurat bagi sekolah yang masih membutuhkan.










