PUNCA.CO – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh mengingatkan masyarakat agar tidak kalap berbelanja menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah, meskipun menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Langkah ini dinilai penting untuk membantu menahan laju inflasi yang saat ini masih cukup tinggi.
Kepala Kantor Perwakilan BI Aceh, Agus Chusaini, mengatakan inflasi Aceh pada Januari 2026 tercatat 6,69 persen secara tahunan (year on year) dibandingkan Januari 2025. Angka tersebut menunjukkan tekanan harga yang signifikan dan perlu diwaspadai bersama.
“Konsep belanja bijak akan terus kami gaungkan agar inflasi tetap terkendali. Pengendalian inflasi bukan hanya tugas pemerintah atau Bank Indonesia, tetapi juga membutuhkan peran masyarakat,” kata Agus, Kamis (26/2/2026).
Baca juga: Bank Aceh Kembali Raih Predikat WTP untuk Laporan Keuangan Tahun 2025
Menurutnya, lonjakan inflasi tidak terlepas dari dampak bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh pada akhir November 2025. Bencana tersebut mengganggu jalur distribusi barang serta produksi sejumlah komoditas strategis, terutama sektor pangan. Akibatnya, pasokan terganggu dan harga mengalami kenaikan.
Di tengah momentum Ramadhan dan menjelang Idul Fitri, BI memprediksi potensi peningkatan konsumsi masyarakat akan semakin tinggi, apalagi dengan adanya pencairan THR. Jika tidak diimbangi dengan pola belanja yang rasional, lonjakan permintaan dikhawatirkan memicu kenaikan harga lebih lanjut.
Agus menegaskan, ada empat langkah utama dalam gerakan belanja bijak yang terus disosialisasikan kepada masyarakat. Pertama, bijak membeli, yakni berbelanja sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan untuk mencegah panic buying. Kedua, bijak memilih dengan mengutamakan pangan lokal serta produk yang relatif stabil harganya.
Baca juga: Perputaran Ekonomi Ramadan Ditarget Tembus Rp2 Miliar, Pemko Banda Aceh Fasilitasi 120 UMKM Gratis
Ketiga, bijak konsumsi dengan menghindari pemborosan pangan. Dan keempat, bijak bertransaksi dengan memanfaatkan pembayaran non tunai seperti QRIS yang dinilai lebih aman, praktis, dan efisien.
“Jangan sampai karena menerima THR, belanja menjadi tidak terkontrol. Harapannya, dengan belanja sesuai kebutuhan, lonjakan permintaan bisa ditekan sehingga inflasi lebih terjaga,” ujarnya.
Di sisi lain, Agus mengakui kondisi ekonomi Aceh masih dalam tahap pemulihan pascabencana. Dampak kerusakan masih dirasakan, khususnya di sektor pertanian, perikanan, dan peternakan yang menjadi penopang ekonomi masyarakat.
Baca juga: Hadiri Rakor Kemendagri, Dek Fadh Pastikan Aceh Siap Sukseskan Program 3 Juta Rumah
Meski demikian, ia tetap optimistis. Sejak Januari 2026, mulai terlihat tanda-tanda perbaikan ekonomi setelah sempat mengalami penurunan tajam pada Desember sebelumnya. Tren ini menjadi sinyal positif bahwa pemulihan sedang berjalan.
BI berharap proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dapat dipercepat agar aktivitas produksi dan distribusi kembali normal. Dengan masyarakat kembali bekerja dan roda ekonomi bergerak, pertumbuhan ekonomi Aceh diyakini akan semakin membaik.
“Jika masyarakat sudah kembali beraktivitas dan bekerja seperti biasa, insyaallah pertumbuhan ekonomi akan lebih kuat. Semua pihak harus berkontribusi, termasuk melalui perilaku konsumsi yang lebih bijak,” tutup Agus.










