PUNCA.CO – Pemerintah belum dapat memastikan penyebab kematian Afzalul Rizal dalam insiden penembakan di Tiro, Kabupaten Pidie, pada 4 November 2026 lalu. Dugaan penembakan yang menewaskan warga tersebut masih harus dibuktikan melalui penyelidikan untuk memastikan jenis luka dan penyebab kematian korban.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, mengatakan informasi mengenai peristiwa itu masih simpang siur. Karena itu, pemerintah meminta aparat mendalami seluruh fakta sebelum menarik kesimpulan.
“Walaupun disebut insiden penembakan, tapi apakah betul terjadi penembakan? Apakah luka pada korban sampai meninggal itu betul luka tembak, atau yang lain? Itu memang masih perlu dilakukan pendalaman dan dilakukan penyelidikan,” ujar Yusril, Jumat (6/11/2026).
Baca juga: Lo Kheng Hong Sebut Pasar Saham RI Tengah Hujan Emas, Investor Diminta Manfaatkan Peluang
Menurut Yusril, salah satu hal yang perlu dipastikan adalah penyebab kematian Afzalul. Korban telah dimakamkan keluarga tanpa menjalani autopsi sehingga diperlukan pendalaman lebih lanjut untuk mengungkap penyebab kematiannya.
Dalam proses tersebut, pemerintah mempersilakan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) melakukan pemantauan dan penyelidikan secara independen. Yusril mengatakan Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, telah menyampaikan rencana datang ke Aceh pada Minggu (8/11/2026).
Komnas HAM akan melakukan penyelidikan bersama perwakilannya di Aceh. Yusril berharap lembaga tersebut juga berkoordinasi dengan Pangdam dan Panglima TNI selama menjalankan tugas di lapangan.
Ia menegaskan pemerintah menghormati independensi Komnas HAM dalam mengusut peristiwa tersebut. Pada saat yang sama, koordinasi dengan instansi terkait dinilai tetap diperlukan agar proses di lapangan berjalan baik.
Baca juga: ORALEXISMUQ Gelar Forum Energi dan Keberlanjutan, Dorong Potensi SDA Aceh Jadi Kemakmuran
Selain penyelidikan, evaluasi internal juga dilakukan di Kodim setempat. Evaluasi itu meliputi pemeriksaan prosedur operasional serta pengamanan personel dan senjata api yang digunakan saat penugasan.
Sementara itu, Polda Aceh mencatat 11 korban sempat mendapat perawatan medis di rumah sakit. Empat orang telah diperbolehkan pulang, sedangkan tujuh lainnya masih menjalani perawatan intensif. Insiden tersebut juga dilaporkan menyebabkan satu warga meninggal dunia.
Yusril meminta masyarakat Aceh tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Pemerintah menyatakan penanganan kasus tersebut akan mengedepankan proses hukum yang transparan dan profesional.










