PUNCA.CO – Kasus hantavirus Argentina mengalami lonjakan tajam dalam setahun terakhir. Otoritas kesehatan setempat mencatat 101 kasus terkonfirmasi sejak Juni 2025, hampir dua kali lipat dibandingkan 57 kasus pada periode yang sama musim sebelumnya.
Lonjakan tersebut turut diikuti peningkatan angka kematian. Hingga kini, tercatat 32 orang meninggal akibat virus tersebut, sekaligus menjadi salah satu tingkat fatalitas tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Angka kematian dilaporkan naik sekitar 10 poin persentase dibanding tahun sebelumnya.
Dilansir dari CNBC Indonesia (10/5/2026), peningkatan kasus tersebut terjadi saat otoritas Argentina menelusuri perjalanan pasangan asal Belanda yang meninggal dunia di tengah wabah virus di kapal pesiar MV Hondius. Kapal itu berangkat dari pelabuhan Ushuaia di Argentina selatan pada 1 April dan kini telah tiba di Kepulauan Canary, Spanyol.
Baca juga: Tiga Orang Tewas Diduga Akibat Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Atlantik
Meski Ushuaia tidak mencatat kasus hantavirus dalam beberapa dekade terakhir, Kementerian Kesehatan Argentina menyebut virus tersebut masih endemik di sejumlah wilayah lain di negara tersebut.
Terdapat empat kawasan yang selama ini dikenal memiliki risiko tinggi penularan meliputi wilayah barat laut seperti Salta, Jujuy, dan Tucumán. Selain itu, wilayah timur laut mencakup Misiones, Formosa, dan Chaco juga masuk daerah rawan.
Risiko serupa ditemukan di wilayah tengah yang meliputi Buenos Aires, Santa Fe, serta Entre Ríos. Sementara di bagian selatan, kasus banyak ditemukan di Neuquen, Río Negro, dan Chubut.
Baca juga: Waspada, Kebiasaan Masak Makanan dengan Suhu Tinggi Picu Risiko Kanker
Pasangan Belanda yang meninggal dalam wabah di MV Hondius diduga sempat mengunjungi Misiones dan Neuquen selama berada di Argentina.
Para ahli menduga perubahan iklim dan kerusakan habitat menjadi faktor utama di balik peningkatan kasus hantavirus. Virus langka tersebut umumnya menular melalui paparan urin atau feses hewan pengerat yang telah terinfeksi.
Di Argentina, penyebaran hantavirus biasanya ditemukan di daerah pedesaan maupun pinggiran kota dengan lingkungan lembap, banyak gulma tinggi, serta area pertanian atau iklim subtropis.
Baca juga: Kenali Ciri-Ciri Kurma Busuk Agar Aman Dikonsumsi
Kementerian Kesehatan Argentina menyatakan, “Meningkatnya interaksi manusia dengan lingkungan liar, perusakan habitat, pembentukan urbanisasi kecil di daerah pedesaan, dan dampak perubahan iklim berkontribusi pada munculnya kasus di luar daerah endemik historis.”
Fenomena cuaca ekstrem seperti kekeringan dan curah hujan tinggi dalam beberapa tahun terakhir juga disebut mempercepat penyebaran virus. Kenaikan suhu dinilai memengaruhi ekosistem dan populasi tikus berekor panjang yang menjadi pembawa utama hantavirus di Argentina dan Chili.






