PUNCA.CO – Rencana pemerintah memperluas penggunaan bioetanol E10 sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) mendapat perhatian dari kalangan petani tebu. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menilai pasokan molase atau tetes tebu dalam negeri sebenarnya mampu mendukung program tersebut, tetapi persoalan harga masih menjadi kendala utama.
Dilansir CNBC Indonesia (25/5/2026), Ketua Umum APTRI Soemitro Samadikoen mengatakan produksi tebu nasional yang mencapai sekitar 40 juta ton per tahun dapat menghasilkan pasokan etanol dalam jumlah besar. Menurut dia, molase hasil produksi tebu domestik cukup untuk memenuhi kebutuhan campuran etanol hingga level E10.
Soemitro mengatakan, “Bioetanol, jadi produksi tebu kita satu tahun kita buletin saja ya kurang lebih 40 juta ton. 40 juta ton itu jadi bioetanol berapa? kali 5%. Ada dua, ketemunya 2 juta kiloliter kalau molase kan kiloliter, 2 juta kiloliter kalau dibuat etanol itu dibagi 4. Dibuat etanol semua menjadi 500 ribu liter etanol itu setara dengan, kalau dipakai etanol semua, setara dengan E10.”
Baca juga: Pemerintah Setujui Anggaran Rp100,1 Triliun untuk Rehab-Rekon Pascabencana
Ia menyampaikan hal tersebut saat ditemui di sela-sela Rapat Kerja Nasional APTRI di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Menurut Soemitro, kebutuhan nasional BBM jenis Pertamax diperkirakan mencapai sekitar 5 juta kiloliter per tahun. Dengan kapasitas produksi tersebut, ia optimistis pasokan etanol berbahan molase tebu masih mencukupi untuk program bioetanol E10.
Meski demikian, APTRI menilai pengembangan bioetanol belum memberikan keuntungan yang seimbang bagi petani tebu. Soemitro mengeluhkan harga molase yang dinilai terlalu rendah dalam skema pengembangan bioetanol domestik.
Baca juga: Mualem Saksikan Langsung RDP DPR-RI Bahas Revisi UUPA
ia mengatakan, “Molase kita ini, bahan baku etanol, cuma dihargai di bawah Rp1.000 lah gitu. Nah kita pernah laku itu Rp2.500 sampai dan terakhir itu Rp1.500 per kg. Kita ekspor itu kita Rp 1.500 (per kg).”
Ia menilai harga tersebut tidak sebanding dengan biaya dan kerja petani dalam memproduksi tebu. Karena itu, APTRI meminta pemerintah memperhatikan nilai ekonomi molase agar petani tidak dirugikan dalam program pengembangan bioetanol nasional.
Selain persoalan harga, Soemitro juga mempertanyakan kesiapan penyerapan etanol domestik oleh Pertamina, termasuk mekanisme pencampuran BBM berbasis bioetanol yang sudah dipasarkan melalui Pertamax Green.
Baca juga: Fenomena Langka Dua Kali Setahun, Warga Diajak Pastikan Ketepatan Kiblat
Di sisi lain, APTRI mengkhawatirkan rencana pengembangan bioetanol justru membuka peluang peningkatan impor etanol. Soemitro menyinggung adanya kabar komitmen pembelian etanol dari Amerika Serikat di tengah dorongan penggunaan bioetanol dalam negeri.





