PUNCA.CO – Uang receh sering kali dianggap sepele dan dibiarkan menumpuk di berbagai tempat, mulai dari laci rumah, celengan hingga dashboard kendaraan. Padahal, jika dikumpulkan secara konsisten, nominal kecil tersebut dapat berkembang menjadi tabungan yang cukup berarti.
Sebagai ilustrasi, menyisihkan uang receh senilai Rp2.000 setiap hari dapat menghasilkan sekitar Rp60 ribu dalam sebulan. Jika dilakukan selama satu tahun penuh, jumlahnya bisa mencapai sekitar Rp730 ribu.
Dilansir CNN Indonesia (31/5/2026), Perencana keuangan OneShildt, Agustina Fitria, menilai kebiasaan menabung menggunakan uang receh masih relevan hingga kini. Menurutnya, transaksi tunai masih banyak digunakan dalam aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Mulai Juli, Registrasi SIM Card HP Mesti Verifikasi Wajah
“Sampai saat ini masih banyak pembayaran yang memerlukan cash seperti parkir atau di pasar tradisional dan pedagang keliling,” ujar Agustina.
Ia menjelaskan, metode menabung menggunakan uang fisik juga dapat menjadi sarana edukasi keuangan bagi anak-anak dan remaja. Cara tersebut dinilai efektif untuk mengenalkan kebiasaan mengelola uang sejak usia dini.
“Penggunaan uang fisik untuk menabung bisa digunakan pada anak-anak dan remaja,” sebutnya.
Baca juga: Waspada WhatsApp Disadap, Kenali 6 Tandanya dan Cara Mengatasinya
Sementara itu, masyarakat dewasa yang telah memiliki akses ke layanan perbankan dapat memanfaatkan rekening maupun dompet digital sebagai alternatif menabung. Kendati demikian, kebiasaan menyimpan uang receh tetap memiliki manfaat, khususnya bagi ibu rumah tangga yang masih sering berbelanja di pasar tradisional atau kepada pedagang keliling.
“Untuk ibu-ibu yang masih banyak berbelanja di pasar tradisional atau pedagang keliling juga bisa menabung uang fisik. Setelah mencapai jumlah tertentu bisa diinvestasikan, misalnya beli emas,” Agustina.
Menurutnya, penggunaan uang logam saat ini memang semakin berkurang seiring meningkatnya penggunaan metode pembayaran digital. Selain lebih praktis, banyak transaksi di pusat perbelanjaan menggunakan nominal yang tidak genap sehingga pembayaran non-tunai lebih sering dipilih masyarakat.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp17.730 per Dolar AS, Cetak Rekor Terendah Baru
“Uang logam cenderung lebih sulit disimpan dibandingkan kertas. Selain itu, nilai transaksi di supermarket sering menggunakan nominal tidak genap sehingga lebih praktis menggunakan digital,” jelasnya.
Meski penggunaannya menurun, uang receh tetap dapat ditukarkan menjadi uang kertas. Bank Indonesia menyediakan layanan penukaran melalui kas keliling maupun layanan penukaran lainnya.
Berdasarkan informasi di laman resmi BI, penukaran uang logam dapat dilakukan maksimal 250 keping untuk setiap pecahan. Adapun penukaran uang kertas dilakukan dalam kelipatan 100 lembar sesuai alokasi yang tersedia.
Baca juga: Prabowo Beri Pembekalan 400 Peserta Program Calon Pemimpin BUMN di Hambalang
Selain itu, BI juga melayani penukaran uang rusak atau cacat, penjualan dan penukaran uang rupiah khusus, serta penukaran uang rupiah yang telah dicabut atau ditarik dari peredaran. Masyarakat yang menggunakan layanan kas keliling diwajibkan membawa bukti pemesanan dan menyiapkan uang sesuai nominal yang telah didaftarkan.
Di luar layanan BI, sejumlah minimarket juga melayani penukaran uang logam. Umumnya, koin yang ditukarkan dapat langsung dibelanjakan atau ditukar menjadi uang kertas sesuai kebijakan masing-masing gerai. Kehadiran layanan tersebut membantu masyarakat memanfaatkan uang receh yang selama ini jarang digunakan dalam transaksi harian.






