PUNCA.CO – Viralnya struk pembelian BBM di SPBU Pertamina yang menampilkan harga asli Pertalite sebesar Rp16.088 per liter memicu perhatian publik. Banyak warganet mempertanyakan skema subsidi BBM setelah mengetahui konsumen hanya membayar Rp10.000 per liter.
Dilansir CNBC Indonesia (17/5/2026), Pertamina Patra Niaga menjelaskan angka tersebut merupakan harga keekonomian Pertalite sebelum subsidi pemerintah diberikan kepada masyarakat.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth M V Dumatubun mengatakan subsidi energi memiliki tersebut bertujuan menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Baca juga: Prabowo Resmikan Operasional 1.061 Koperasi Merah Putih
“Subsidi bertujuan menjaga kestabilan nasional, baik dari sisi daya beli masyarakat maupun menjaga roda perekonomian tetap berjalan.” ujar Roberth.
Ia menegaskan harga jual Pertalite tetap berada di angka Rp10.000 per liter karena adanya subsidi pemerintah sebesar Rp6.088 per liter. Dalam struk yang beredar, rincian tersebut tercantum jelas bersama harga dasar Pertalite yang mencapai Rp16.088 per liter.
Perdebatan kemudian berkembang setelah publik membandingkan harga Pertalite dengan Pertamax. Pasalnya, Pertalite dengan Research Octane Number (RON) 90 terlihat memiliki harga dasar lebih tinggi dibandingkan Pertamax RON 92 yang saat ini dijual sekitar Rp12.300 per liter di wilayah Jabodetabek.
Baca juga: Museum Ibu Marsinah Resmi Dibuka, Disebut Sebagai Simbol Perjuangan Buruh
Menanggapi hal itu, Pertamina menjelaskan Pertamax merupakan BBM non-subsidi sehingga harga jualnya mengikuti mekanisme pasar. Menurut perusahaan, skema penetapan harga Pertamax berbeda dengan Pertalite yang mendapat intervensi subsidi pemerintah.
“Pertamax adalah jenis BBM non-subsidi karena harganya mengikuti harga pasar.” jelas Roberth.
Ia juga menyampaikan bahwa harga BBM non-subsidi tetap dipengaruhi kebijakan pemerintah, terutama dalam menjaga stabilitas harga energi di tengah fluktuasi pasar global.
Baca juga: Yusril Sebut Film Dokumenter Pesta Babi Kritik yang Wajar
Sebelumnya, unggahan yang ramai dibahas di platform Threads memperlihatkan rincian pembelian Pertalite di SPBU. Dalam struk tersebut tercantum harga dasar BBM Rp16.088 per liter, subsidi pemerintah Rp6.088 per liter, serta harga akhir yang dibayar konsumen sebesar Rp10.000 per liter.
Unggahan itu kemudian memicu diskusi luas di media sosial terkait kebijakan subsidi BBM, termasuk alasan pemerintah lebih memilih memberikan subsidi kepada Pertalite dibandingkan Pertamax yang memiliki kualitas oktan lebih tinggi.









