PUNCA.CO – Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh mencatat jumlah kasus tuberkulosis (TBC) di ibu kota mengalami peningkatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh, Wahyudi, mengatakan sebanyak 1.617 kasus TBC sensitif obat (SO) tercatat menjalani pengobatan selama 2025. Angka itu meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebanyak 1.485 kasus.
“Pada tahun 2025 terdapat 1.617 kasus TBC sensitif obat yang diobati. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 1.485 kasus,” kata Wahyudi, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Kejaksaan Agung Geledah Kantor Badan Gizi Nasional
Selain itu, Dinkes Banda Aceh juga mencatat 17 kasus TBC resisten obat (RO) yang menjalani pengobatan pada 2025. Meski jumlahnya lebih rendah dibandingkan 2024 yang mencapai 40 kasus, keberadaan TBC resisten obat tetap menjadi perhatian karena penanganannya lebih kompleks dan membutuhkan waktu pengobatan lebih lama.
Data Dinas Kesehatan menunjukkan temuan kasus TBC tertinggi di tingkat puskesmas berasal dari wilayah kerja Puskesmas Baiturrahman dengan 25 kasus, disusul Puskesmas Meuraxa sebanyak 23 kasus.
Sementara jika dihitung berdasarkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dalam wilayah kerja puskesmas, termasuk rumah sakit, klinik, dan dokter praktik mandiri, wilayah Puskesmas Kuta Alam menjadi penyumbang kasus terbanyak dengan 797 kasus. Posisi berikutnya ditempati Puskesmas Banda Raya sebanyak 225 kasus dan Puskesmas Baiturrahman sebanyak 134 kasus.
Baca juga: 5.484 Air Zamzam Sudah Tiba di Aceh, Jamaah Haji Diingatkan Tak Membawanya dalam Koper
Wahyudi menjelaskan kelompok usia produktif hingga lanjut usia masih menjadi kelompok yang paling banyak terdampak TBC di Banda Aceh. Sepanjang 2025, kasus terbanyak ditemukan pada kelompok usia 45 hingga 54 tahun dengan 248 kasus, disusul kelompok usia 55 hingga 65 tahun sebanyak 222 kasus.
Di sisi lain, kasus TBC juga masih ditemukan pada kelompok anak-anak. Dinas Kesehatan mencatat terdapat 61 kasus pada anak usia 0 hingga 4 tahun dan 57 kasus pada kelompok usia 5 hingga 14 tahun selama 2025.
Ia mengimbau masyarakat untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala TBC, seperti batuk berkepanjangan selama lebih dari dua minggu, penurunan berat badan, demam, dan keringat malam. Deteksi dini dinilai penting untuk mencegah penularan sekaligus meningkatkan keberhasilan pengobatan.






