PUNCA.CO – Arab Saudi akhirnya ikut terlibat konflik AS-Iran setelah berupaya menghindari keterlibatan langsung selama sekitar lima bulan. Riyadh memutuskan bergabung dengan Amerika Serikat dalam operasi militer yang menyasar wilayah Irak timur, kawasan yang menjadi basis milisi pro-Iran.
Dilansir CNN Indonesia (30/7/2026), serangan yang berlangsung pada Selasa (28/7/2026) waktu setempat dilakukan setelah Arab Saudi menghadapi gelombang serangan rudal dan pesawat nirawak dari kelompok Houthi di Yaman serta milisi sekutu Iran di Irak dalam sepekan terakhir.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyebut operasi gabungan tersebut merupakan respons kuat terhadap lebih dari 30 serangan drone yang dituduh dikendalikan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Baca juga: Drone dari Irak Kembali Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi
Meski sebagian besar serangan Iran tidak langsung menghantam wilayah Saudi, sejumlah serangan dilaporkan menargetkan pangkalan dan fasilitas militer Amerika Serikat di negara tersebut, termasuk kompleks petrokimia Jubail pada 18 Juli lalu.
“Kerajaan menekankan bahwa pihaknya tidak mencari eskalasi tetapi akan menanggapi setiap agresi yang dihadapinya,” kata Kementerian Pertahanan Saudi.
Menurut analis CNN Tim Lister dan Nic Robertson, keputusan Riyadh untuk terlibat dalam konflik dipicu meningkatnya serangan milisi pro-Iran di Irak. Dua serangan drone yang menyasar infrastruktur penting Saudi dan wilayah Riyadh pada Senin dan Selasa disebut menjadi pemicu utama perubahan sikap kerajaan.
Baca juga: AS Selidiki Dugaan Keterlibatan Rusia dalam Serangan Drone Iran ke Fasilitas Rahasia CIA
Selain itu, pengalaman serangan terhadap kilang minyak Abqaiq pada 2019 juga menjadi pertimbangan penting. Saat itu, serangan yang diklaim Houthi melumpuhkan hampir separuh produksi minyak Saudi. Meski Riyadh tidak melakukan serangan balasan, Saudi tetap menyalahkan Iran atas insiden tersebut.
Tekanan juga datang dari kelompok Houthi di Yaman. Pada akhir pekan lalu, kelompok itu menembakkan rudal ke dua kompleks minyak Saudi di Jazan, kawasan pesisir Laut Merah. Berdasarkan citra satelit dan video geolokasi, salah satu fasilitas mengalami kerusakan cukup parah.
Serangan Houthi sebelumnya juga menyasar kapal tanker Saudi di Laut Merah sebagai bentuk penegakan blokade yang mereka deklarasikan. Menurut Lister dan Robertson, langkah tersebut dipandang Riyadh sebagai eskalasi serius, terutama ketika sebagian besar ekspor minyak Saudi telah dialihkan ke Laut Merah akibat terganggunya Selat Hormuz.
Baca juga: Iran Peringatkan AS Soal Pulau Kharg di Tengah Ancaman Operasi Militer Trump
Analis Mohammed Al Basha menilai keterlibatan Saudi dalam konflik terjadi karena seluruh batas toleransi kerajaan telah dilampaui oleh aksi Houthi.
Di sisi lain, Arab Saudi terus memperkuat kemampuan militernya melalui investasi besar dalam modernisasi alat utama sistem persenjataan, termasuk teknologi pertahanan rudal dan anti-drone. Menurut Nawaf Obeid dari Departemen Studi Perang King’s College London, angkatan udara Saudi kini jauh lebih siap dibanding satu dekade lalu dalam mendeteksi, melacak, dan merespons berbagai ancaman militer.
Meski demikian, para analis menilai keterlibatan Riyadh dalam konflik berisiko tinggi. Selain menghadapi milisi di Irak dan Yaman, Arab Saudi juga berpotensi berhadapan langsung dengan Iran, yang dinilai memiliki pengalaman panjang dalam strategi perang asimetris.






