PUNCA.CO – Pulau Kharg kembali menjadi perhatian di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran memperingatkan Washington agar tidak melancarkan operasi militer terhadap pulau yang menjadi pusat ekspor minyak negara tersebut.
Pulau yang berada di Teluk Persia itu memiliki peran strategis karena menjadi jalur pengiriman sekitar 90 persen minyak mentah Iran. Posisi tersebut menjadikannya salah satu aset ekonomi paling penting bagi Teheran.
Dilansir Tribunnews.com (21/7/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa setiap langkah militer Amerika Serikat akan menghadapi konsekuensi.
Baca juga: Iran Gempur Bahrain dan Kuwait Usai Serangan AS Berlanjut Tujuh Malam Berturut-turut
“Mereka akan menghadapi akibatnya. Ada banyak orang di wilayah-wilayah tersebut yang dengan penuh harap menantikan kedatangan mereka,” tegas Baghaei.
Baghaei juga menegaskan bahwa nota kesepahaman antara Iran dan Amerika Serikat telah disusun secara jelas.
“Teks nota kesepahaman ini singkat dan memiliki 14 klausul,” kata Baghaei.
Baca juga: Pelayanan Jamaah Haji Aceh Bejalan Baik, Dek Fadh Apresiasi Tim PPHD
Selain itu, Iran juga kembali menegaskan sikapnya mengenai Selat Hormuz. “Sejak awal kami telah mengatakan bahwa tanggung jawab atas pengelolaan Selat Hormuz di masa depan berada di tangan Iran, dan masalah ini akan ditindaklanjuti melalui konsultasi dengan Oman serta dialog dengan negara-negara regional,” kata Baghaei.
Ia juga mengingatkan agar Amerika Serikat tetap mematuhi komitmen diplomatik yang telah disepakati.
“Teksnya sangat jelas, dan tidak ada alasan bagi Amerika untuk melanggar perjanjian tersebut,” kata Baghaei.
Baca juga: Empat Ruko di Lamdingin Banda Aceh Terbakar, Diduga Korsleting Listrik
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan The Wall Street Journal, yang dikutip NDTV, menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah mempertimbangkan perluasan operasi militer terhadap Iran. Opsi yang dibahas disebut mencakup serangan udara yang lebih intensif hingga kemungkinan operasi darat yang menyasar lokasi strategis, termasuk Pulau Kharg dan kompleks Gunung Pickaxe.
Jika Pulau Kharg berhasil dikuasai, Amerika Serikat berpotensi mengendalikan terminal utama ekspor minyak Iran sehingga dapat meningkatkan tekanan terhadap perekonomian negara itu. Namun, langkah tersebut dinilai berisiko karena pasukan AS akan menghadapi ancaman serangan rudal dan drone Iran.
Kepada Al Jazeera, Andreas Krieg, profesor madya studi keamanan di King’s College London, menilai Amerika Serikat secara militer memiliki kemampuan untuk merebut pulau kecil milik Iran. Namun, menurutnya, mempertahankan wilayah tersebut akan jauh lebih sulit dibanding merebutnya karena membutuhkan dukungan logistik yang besar dan biaya tinggi.
Baca juga: Warga di Himbau Urus Pajak Tanpa Calo, Seluruh Pelayanan Resmi Dipastikan Gratis
Pulau Kharg terletak sekitar 25 kilometer dari daratan Iran di Provinsi Bushehr dengan luas sekitar 20 kilometer persegi. Mengutip The Guardian, sekitar 90 persen ekspor minyak Iran melewati pulau tersebut. Setiap hari, antara 1,3 juta hingga 1,6 juta barel minyak dikirim melalui terminal itu, sementara JP Morgan memperkirakan Iran juga menyimpan sekitar 18 juta barel minyak sebagai cadangan di Pulau Kharg.
Sebelumnya, pada 13 Maret 2026, Presiden Donald Trump mengumumkan militer Amerika Serikat telah menyerang target militer di Pulau Kharg. Menurut CENTCOM, operasi tersebut menyasar lebih dari 90 fasilitas militer Iran. Sementara itu, Iran menyatakan tidak ada infrastruktur minyak yang mengalami kerusakan meski lebih dari 15 ledakan dilaporkan terjadi di pulau tersebut.








