PUNCA.CO – Dua puluh tahun setelah perdamaian Aceh melalui MoU Helsinki, tantangan baru kini dihadapi generasi muda untuk memastikan perdamaian menjadi fondasi pembangunan yang adil, demokratis, inklusif, dan Sejahtera yang berkeadilan.
Semangat tersebut menjadi dasar pelaksanaan program Aceh Peace Generation 2047, yang mendorong Generasi-Z Aceh mengambil peran strategis dalam menentukan arah masa depan Aceh. Kegiatan tersebut berlangsung selama 10 mulai tanggal 21 sampai 31 Juli 2026, dan tujuan wilayah yang di kunjungi adalah Timor Leste dan Malaysia.
Perdamaian tidak hanya dipandang sebagai kondisi tanpa konflik, tetapi juga harus diwujudkan melalui pendidikan, ekonomi, demokrasi, tata kelola pemerintahan, perlindungan lingkungan, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Baca juga: Joaquim Fonseqa Ungkap Alasan Maju Pilpres Timor-Leste Kepada ACSTF
Executing Manager Acehnese Civil Society Task Force (ACSTF), Nina Noviana, menegaskan bahwa Generasi Z harus mampu melampaui peran sebagai penerima warisan perdamaian. Generasi tersebut diharapkan dapat mengubah perdamaian menjadi kemajuan dan peradaban baru bagi Aceh.
“Perdamaian Aceh harus bertrasformasi menjadi lebih maju dan berdampak terhadap Aceh. Kita berharap program ini bisa menjadi harapan yang terbait untuk Perdamaian Aceh,” ujar Nina Noviana, Rabu (29/7/2026).
Delegasi ini dipimpin Nina Noviana bersama Meurah Fathiyatul Alya, Awwaluddin Buselia dan Muhammad Hakiem Afdhal Budian. Ketiganya merupakan mahasiswa yang berasal dari Program Studi Ilmu Politik dan Magister Damai dan Resolusi Konflik Universitas Syiah Kuala (USK) serta Program Studi Ilmu Politik UIN Ar-Raniry Aceh.
Baca juga: ACSTF Bahas Perkembangan Reintegrasi Aceh Bersama Ketua BRA
Dalam prosesnya, Aceh Peace Generation 2047 menjadikan pengalaman sejumlah negara dan wilayah sebagai bahan pembelajaran. Timor Leste, Irlandia Utara, Afrika Selatan, Kolombia, Nepal, dan Skotlandia memiliki pengalaman berbeda dalam membangun perdamaian melalui rekonsiliasi, dialog, negosiasi, transformasi politik, maupun mekanisme demokrasi.
Pembelajaran tersebut menjadi bekal bagi Generasi Z Aceh untuk membayangkan masa depan Aceh pada 2045 sebagai pusat pembelajaran perdamaian di Asia Tenggara, dengan pendidikan unggul dan riset berkelas dunia.
Selain itu, Aceh diharapkan mampu mengembangkan ekonomi kreatif, digital, hijau, serta kewirausahaan muda. Tata kelola pemerintahan yang transparan dan partisipatif, kesetaraan kesempatan, transformasi digital pelayanan publik, budaya dialog, toleransi, syariah, dan penghormatan terhadap HAM juga menjadi bagian dari visi tersebut.
Baca juga: Achehnese Civil Society Task Force (ACSTF) Gelar Aceh Peace Forum (APF) ke-II
ACSTF menilai investasi paling penting bagi masa depan Aceh adalah menyiapkan generasi muda dengan wawasan global, kemampuan berpikir kritis, dan kepemimpinan yang inklusif.






