PUNCA.CO – Ancaman terhadap jalur perdagangan dunia kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi di Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Situasi ini terjadi ketika Selat Hormuz telah ditutup akibat konflik yang melibatkan Iran.
Dilansir BBC Indonesia (30/7/2026), Selat Bab al-Mandab menghubungkan Teluk Aden dengan Laut Merah menuju Terusan Suez. Jalur tersebut menjadi lintasan sekitar 12 persen pengiriman minyak dunia melalui laut sekaligus salah satu koridor utama perdagangan internasional.
Pada Senin, 20 Juli 2026, juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menyatakan embargo dilakukan sebagai balasan atas blokade Arab Saudi terhadap pelabuhan dan bandara di wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.
Baca juga: Arab Saudi Akhirnya Memilih Bantu AS Serang Iran, Berikut Alasannya
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengecam tuduhan itu dan menegaskan bahwa mereka “akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi kapal-kapalnya sesuai dengan hukum internasional”.
Konflik Yaman sendiri telah berlangsung sejak 2014 ketika Houthi mengambil alih ibu kota Sanaa. Setahun kemudian, koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perang tersebut telah menewaskan lebih dari 150.000 orang dan membuat lebih dari 22 juta warga membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Sejumlah pengamat menilai Houthi memiliki kemampuan untuk mengganggu lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut meski tidak harus menutup jalur secara total.
Baca juga: AS Selidiki Dugaan Keterlibatan Rusia dalam Serangan Drone Iran ke Fasilitas Rahasia CIA
“Houthi memiliki ranjau dan telah mengembangkan kemampuan drone maritim mereka dalam beberapa tahun terakhir.” kata Farea al-Muslimi, Pakar Timur Tengah dari Chatham House.
Ia menilai kelompok itu cukup menyerang satu target untuk memicu kepanikan di kalangan perusahaan asuransi, pelayaran, dan pemasok energi sehingga dampaknya bisa jauh lebih besar daripada serangan itu sendiri.
Pakar urusan Yaman, Anwat al-Ansi, juga menilai ancaman tersebut sejalan dengan kepentingan Iran untuk meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi.
Baca juga: Iran Peringatkan AS Soal Pulau Kharg di Tengah Ancaman Operasi Militer Trump
“Iran menginginkan eskalasi ini karena hanya itu pilihan yang dimilikinya sekarang. Arab Saudi telah menghindari keterlibatan dengan Teheran, tetapi kini mereka harus bertindak untuk mempertahankan kepentingannya jika Houthi benar-benar menyerang,” kata Anwat al-Ansi.
Secara geografis, Selat Bab al-Mandab berada di antara Yaman, Djibouti, dan Eritrea. Jalur sepanjang sekitar 115 kilometer dengan lebar 36 kilometer itu menjadi penghubung utama antara Samudra Hindia dan Terusan Suez. Selain sekitar lima juta barel minyak per hari, sekitar 8 persen pengiriman gas alam cair (LNG) dunia juga melintasi kawasan tersebut.
Ancaman terhadap Selat Bab al-Mandab dinilai berpotensi memperburuk gangguan rantai pasok global yang sudah tertekan akibat penutupan Selat Hormuz. Sebelumnya, harga minyak mentah Brent telah melonjak dari sekitar US$70 menjadi lebih dari US$115 per barel sejak krisis di Teluk meningkat.
Houthi sebelumnya juga pernah menyerang lebih dari 100 kapal komersial di Laut Merah selama konflik Gaza menggunakan rudal dan drone. Serangan-serangan tersebut membuat sejumlah perusahaan pelayaran internasional menghentikan operasinya di kawasan itu.
“Bahkan jika tidak ada kapal yang diserang, pengumuman itu sendiri kemungkinan akan mengganggu pelayaran dan menciptakan ketidakpastian bagi pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi. Apakah Houthi akan beralih dari ancaman menjadi tindakan langsung tetap menjadi isu yang paling penting,” kata Analis risiko dari Basha Report, Mohammed Albasha.






