PUNCA.CO – Makanan di pesawat terasa hambar meskipun telah dibumbui dengan baik. Kondisi tersebut ternyata tidak selalu disebabkan oleh resep atau cara memasak, melainkan juga berkaitan dengan perubahan lingkungan kabin yang memengaruhi kemampuan indra manusia dalam mengenali cita rasa.
Dilansir CNBC Indonesia (23/9/2026), pada ketinggian jelajah sekitar 35.000 kaki, kondisi udara di dalam pesawat berbeda dari lingkungan di permukaan laut. Tekanan kabin, kelembapan yang rendah, serta suara mesin dapat mengubah pengalaman penumpang ketika menyantap makanan.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi persepsi terhadap rasa manis, asin, dan gurih.
Baca juga: Wagub Dek Fadh Pimpin Rapat Tim Revisi UUPA, Pastikan Kewenangan dan Kekhususan Aceh Tetap Terjaga
Kabin pesawat komersial memiliki sistem pengaturan tekanan udara. Namun, tekanannya umumnya setara dengan kondisi pada ketinggian sekitar 6.000 hingga 8.000 kaki, bukan seperti di permukaan laut.
Kelembapan udara di dalam kabin juga cenderung rendah sehingga hidung dan mulut dapat menjadi lebih kering. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kemampuan indra penciuman dan pengecap dalam menangkap cita rasa makanan.
Studi yang ditugaskan oleh maskapai Lufthansa dan dilakukan Fraunhofer Institute for Building Physics menemukan bahwa persepsi terhadap rasa manis dan asin dapat menurun dalam kondisi kabin pesawat.
Baca juga: Polda Aceh Ungkap Kasus Aborsi, Tiga Pelaku Ditangkap
Akibatnya, makanan yang terasa cukup berbumbu ketika disantap di darat bisa terasa lebih hambar selama penerbangan.
Selain kondisi udara, suara mesin pesawat juga berpengaruh terhadap pengalaman makan penumpang.
Kebisingan kabin yang dapat mencapai sekitar 80 hingga 85 desibel selama penerbangan berpotensi menekan persepsi rasa manis sekaligus memperkuat sensasi umami atau gurih.
Baca juga: Bank Aceh Sosialisasikan Internet Banking Corporate ke Sekolah di Bireuen
Penelitian Cornell University turut mengkaji hubungan antara kebisingan lingkungan dan persepsi rasa. Temuannya membantu menjelaskan mengapa jus tomat cukup populer di pesawat, karena karakter umaminya cenderung lebih terasa dalam kondisi kabin yang bising.
Untuk mengatasi perubahan persepsi rasa, tim katering maskapai dapat menyesuaikan resep hidangan yang disajikan selama penerbangan.
Penggunaan rempah-rempah dan bahan kaya umami menjadi salah satu cara untuk mempertahankan cita rasa. Meski demikian, penambahan garam secara berlebihan bukan selalu solusi karena dapat membuat makanan terasa terlalu kuat bagi sebagian penumpang.
Baca juga: Polresta Banda Aceh Selidiki Dugaan Penganiayaan Siswa di Sekolah
Proses pemanasan ulang juga menjadi pertimbangan. Sebagian besar makanan penerbangan dimasak di darat, didinginkan dengan cepat, kemudian dipanaskan kembali di pesawat.
Proses tersebut dapat memengaruhi tekstur dan rasa, misalnya membuat sayuran lebih lembek atau mengurangi kerenyahan makanan.
Karena itu, menu seperti kari, semur, daging yang dimasak perlahan, dan pasta kerap digunakan karena cenderung mampu mempertahankan karakter rasa serta teksturnya setelah dipanaskan kembali.
Baca juga: Wali Kota Banda Aceh Kecam Dugaan Bullying dan Pengeroyokan Siswa SMA
Perubahan cita rasa tidak dirasakan semua penumpang dengan tingkat yang sama. Usia, kondisi hidrasi, kesehatan, dan keadaan seperti pilek dapat memengaruhi kemampuan seseorang mengenali rasa makanan.
Menjaga tubuh tetap terhidrasi sebelum dan selama penerbangan dapat membantu mengurangi dampak udara kabin yang kering, meskipun tidak sepenuhnya mengembalikan persepsi rasa seperti ketika berada di darat.
Dengan demikian, makanan di pesawat yang terasa hambar tidak selalu menunjukkan masalah pada resep atau cara memasaknya. Kondisi kabin dan proses penyajian turut menentukan bagaimana cita rasa makanan diterima oleh penumpang.






