Home Nasional 4 WNI Korban Pembajakan Kapal Somalia Akhirnya Dibebaskan
Nasional

4 WNI Korban Pembajakan Kapal Somalia Akhirnya Dibebaskan

Share
4 WNI Korban Pembajakan Kapal Somalia Akhirnya Dibebaskan
Ilustrasi penyelamatan. | Dok. EPA/ Daniel Irungu
Share

PUNCA.CO – Empat warga negara Indonesia (WNI) yang disandera perompak Somalia selama lebih dari lima bulan akhirnya dibebaskan. Mereka merupakan bagian dari 17 awak kapal tanker MT Honour 25 yang dibajak sejak April 2026.

Dilansir BBC Indonesia (3/10/2026), pembebasan berlangsung setelah aparat bersenjata Puntland, wilayah semi-otonomi di Somalia, menyerbu kapal tersebut pada Selasa pagi, 29 September 2026.

Salah satu WNI yang dibebaskan adalah Ashari Samadikun, kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Setelah operasi berlangsung, Ashari langsung menghubungi ayahnya, Syamsuddin, untuk mengabarkan kondisi di atas kapal.

Baca juga: Tinjau Daerah Irigasi Seunong, Wagub Dek Fadh Dorong Perbaikan Segera

Syamsuddin mengatakan Ashari sempat mengambil telepon miliknya setelah dibebaskan.

“Anak saya [Ashari] sudah ambil dia punya hp. Dia sampaikan apa yang ada. Tapi dalam kondisi yang masih kacau,” kata Syamsuddin.

Operasi pembebasan tersebut berlangsung di tengah baku tembak antara aparat Puntland dan kelompok perompak. Wakil Menteri Informasi Puntland, Bile Qabowsade, mengatakan lima sandera tewas sebelum aparat berhasil menaiki MT Honour 25.

Baca juga: Sepanjang September Aceh Diguncang 110 Gempa

Kelima korban disebut terdiri atas tiga warga Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar. Sejumlah awak kapal lainnya juga mengalami luka-luka.

Menurut Syamsuddin, berdasarkan informasi dari Ashari, salah satu ABK yang terluka merupakan WNI bernama Fiki Mutakin asal Bogor, Jawa Barat.

MT Honour 25 dibajak sejak 21 April 2026 ketika kapal membawa sekitar 18.500 barel minyak menuju Mogadishu, ibu kota Somalia. Selain Ashari dan Fiki, dua WNI lainnya yang berada di kapal tersebut adalah Adi Faizal, 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, serta Wahudinanto, Chief Officer asal Pemalang, Jawa Tengah.

Baca juga: Plt Sekda Aceh Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Kantor PWI Aceh

Setelah operasi, lima ABK yang terluka menjalani perawatan di rumah sakit terdekat di wilayah Gorawe. Sementara itu, tujuh ABK lainnya dibawa ke Bosaso dengan pengawalan aparat, termasuk tiga WNI, yakni Ashari, Wahudinanto, dan Adi Faizal.

Perjalanan menuju Bosaso diperkirakan memerlukan waktu sekitar lima hari melalui jalur laut. Evakuasi menggunakan helikopter belum memungkinkan karena situasi keamanan yang masih tidak stabil.

Sementara itu, 16 terduga perompak telah ditangkap. Sejumlah pelaku lainnya melarikan diri dan masih dalam pengejaran aparat.

Baca juga: Jubir Pemerintah Aceh, Nurlis: Safrizal Bermanuver Soal TKD Aceh, Tapi Pura-pura Lupa Pagu Rp24,2 Triliun untuk Bencana Aceh

Kondisi para sandera sebelumnya juga sempat memburuk selama penyekapan. Persediaan makanan dan minuman di kapal menipis, sementara para sandera dilaporkan banyak yang jatuh sakit.

“Mereka hanya bertahan dengan kesabaran dan doa serta sisa beras yang harus diirit,” kata Syamsuddin, ayah Ashari Samadikun, kapten kapal MT Honour 25.

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai waktu pemulangan keempat WNI ke Indonesia. Syamsuddin mengatakan Ashari masih menunggu kondisi Fiki membaik sebelum bersedia pulang.

Baca juga: Dek Fadh Usulkan Penyediaan Alat Berat untuk Daerah Rawan Banjir

“Kru yang dari Indonesia ini mau diberangkatkan pulang kalau sudah sehat-sehat. Anak saya [Ashari] belum mau pulang kalau belum bersama Fiki,” kata dia.

Share