Home Dunia Jamur Raksasa Dianjunus rex Ditemukan di China, Tumbuh hingga 50 Sentimeter
Dunia

Jamur Raksasa Dianjunus rex Ditemukan di China, Tumbuh hingga 50 Sentimeter

Share
Jamur Raksasa Dianjunus rex Ditemukan di China, Tumbuh hingga 50 Sentimeter
Jamur Raksasa, Dianjunus rex. | Dok. Frontiers in Fungal Biology
Share

PUNCA.CO – Ilmuwan menemukan spesies jamur raksasa bernama Dianjunus rex di hutan Provinsi Yunnan, China. Jamur ini memiliki struktur reproduksi yang dapat tumbuh hingga 50 sentimeter dengan berat hampir 2,2 kilogram, menjadikannya spesies terbesar yang diketahui dalam filum Ascomycota.

Dilansir detik.com (25/10/2026), penemuan tersebut menambah daftar keanekaragaman jamur yang belum sepenuhnya terungkap oleh ilmu pengetahuan. Nama Dianjunus rex juga mengingatkan pada Tyrannosaurus rex, dinosaurus yang dikenal sebagai salah satu predator terbesar pada masanya.

Jamur tersebut ditemukan saat survei keanekaragaman jamur yang berlangsung pada 2024 dan 2025. Hasil penelitian itu dilaporkan pada 28 September dalam jurnal Frontiers in Fungal Biology.

Baca juga: Lapak PKL Kian Menjamur, Satpol PP-WH Banda Aceh Tertibkan Tujuh Lapak

Kabir Peay, profesor biologi di Universitas Stanford yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menilai temuan ini menunjukkan masih banyak bentuk kehidupan jamur yang belum teridentifikasi.

“Mendengar penemuan jenis atau spesies jamur baru berukuran spektakuler selalu menarik. Ini jadi petunjuk banyaknya bentuk kehidupan jamur yang sangat eksotis, yang belum sempat diidentifikasi dan dijelaskan sains,” kata Peay.

Ditemukan di Sekitar Pohon Mati

Sebelum diteliti ilmuwan, sejumlah petani setempat telah melihat jamur berbentuk menyerupai jari tersebut tumbuh berkelompok di sekitar pohon mati. Beberapa penduduk bahkan telah mencicipinya dan melaporkan tidak mengalami efek buruk, meskipun kandungan racunnya belum diuji secara ilmiah.

Baca juga: Pemerintah Ajukan Rancangan APBA 2027 Sebesar Rp10,37 Triliun, Pendapatan Aceh Rp10,01 Triliun

Rekan penulis penelitian, Indunil Senanayake dari Institut Botani Kunming, mengatakan jamur itu awalnya tidak dianggap sebagai sesuatu yang istimewa oleh masyarakat setempat.

“Namun, tidak ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang penting,” kata Senanayake.

Perhatian ilmuwan mulai tertuju pada spesies tersebut setelah seorang warga mengirimkan foto jamur itu kepada mereka.

Baca juga: Indonesia Pangkas Ekspor Gas ke Singapura Sebesar 31 BBTUD

Berasal dari Famili Jamur Baru

Melalui analisis genetik dan perbandingan dengan spesies lain, para peneliti mengidentifikasi famili baru bernama Dianjunaceae. Kelompok ini diperkirakan muncul sekitar satu juta tahun setelah tumbukan asteroid yang mengakhiri Periode Kapur, sekitar 66 juta tahun lalu.

Senanayake menjelaskan bahwa kepunahan massal kemungkinan menciptakan kondisi yang mendukung perkembangan organisme pengurai, termasuk jamur. Setelah tumbukan asteroid, fotosintesis terhambat sehingga daun mati, kayu, akar, dan bangkai menumpuk dalam jumlah besar.

“Selama peristiwa ini, fotosintesis terhambat, sejumlah besar daun mati, kayu, akar, serta bangkai menumpuk,” ujar Senanayake.

Baca juga: Mengaku Imam Mahdi, Figar Fadlillah Dilaporkan atas Dugaan Pemerasan

Material organik yang melimpah tersebut menjadi sumber makanan bagi jamur pengurai ketika berbagai bentuk kehidupan lain berjuang untuk bertahan hidup.

Terbesar dalam Kelompok Ascomycota

Meski tidak sebanding dengan dinosaurus dalam hal ukuran, Dianjunus rex memiliki struktur reproduksi yang menjulang dibandingkan banyak jamur lainnya. Spesies ini menjadi yang terbesar yang diketahui dalam filum Ascomycota, kelompok jamur dengan sekitar 65.000 spesies.

Sebelum penemuan ini, salah satu anggota Ascomycota terbesar yang diketahui adalah Engleromyces goetzei, jamur berbentuk bulat berwarna cokelat yang ditemukan di Kenya. Jamur tersebut memiliki diameter hampir 30 sentimeter dan berat sekitar 3,2 kilogram.

Baca juga: Muda Seudang Kukuhkan 5 DPW Baru di Aceh Tengah, Kini Terbentuk di 22 Kabupaten/Kota

Para ilmuwan selanjutnya ingin mengetahui faktor yang memungkinkan D. rex tumbuh jauh lebih besar dibandingkan jamur lain dalam kelompoknya.

“Umumnya, kelompok ascomycetes tidak menghasilkan stromata besar, karena merupakan pemborosan energi,” jelas Senanayake.

Jamur berperan penting dalam siklus karbon Bumi serta mendukung kesehatan dan nutrisi berbagai spesies tumbuhan. Namun, jumlah spesies yang telah dideskripsikan masih jauh di bawah perkiraan total keanekaragaman jamur di dunia.

Baca juga: Tujuh Rumah di Komplek Permata Puni Terbakar

Ilmuwan telah mendeskripsikan sekitar 150.000 spesies jamur, sementara sejumlah perkiraan menyebutkan jumlah keseluruhannya berkisar antara 2 juta hingga 13 juta spesies.

“Ini adalah kelompok organisme yang sangat kurang mendapat perhatian dan belum banyak dideskripsikan,” tambah Peay.

Sebagian besar tubuh jamur tersusun atas filamen menyerupai benang yang disebut hifa. Struktur tersebut umumnya berada di dalam tanah, kayu lapuk, atau vegetasi, sedangkan bagian reproduksi seperti stromata baru muncul ketika kondisi lingkungan mendukung atau saat jamur mencapai akhir siklus hidupnya.

Share
Tulisan Terkait

Meski Diguncang Tarif Trump, China Catat Surplus Perdagangan Rekor US$ 1,189 Triliun di 2025

PUNCA.CO – China mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$ 1,189 triliun sepanjang 2025,...

Timnas Indonesia turun tiga peringkat usai kalah dari China.

PUNCA.CO – Timnas Indonesia mengalami penurunan peringkat di ranking FIFA setelah kalah...