Home Dunia Puluhan Ribu Warga Korea Selatan Memeluk Islam, Apa Alasannya?
Dunia

Puluhan Ribu Warga Korea Selatan Memeluk Islam, Apa Alasannya?

Share
Puluhan Ribu Warga Korea Selatan Memeluk Islam, Apa Alasannya?
Bendara Korea Selatan. | Dok. tourkorea.co.id
Share

PUNCA.CO – Fenomena warga Korea Selatan memeluk Islam menjadi bagian dari perkembangan komunitas Muslim di negara tersebut. Diperkirakan sekitar 45.000 etnis Korea yang lahir dan besar di Korea Selatan telah menjadi Muslim, dengan latar belakang beragam, mulai dari pencarian spiritual hingga keinginan menjalani kehidupan di luar tekanan sosial.

Di antara mereka, ada yang tertarik pada ajaran Islam karena menawarkan pandangan hidup yang berbeda dari kebiasaan masyarakat di sekitarnya. Namun, alasan setiap orang untuk menjadi mualaf tidak selalu sama.

Dilansir dari CNBC Indonesia (23/10/2026), Yusuf, pria Korea berusia 30-an yang memeluk Islam pada 2014, mengatakan sebagian pria tertarik pada agama tersebut karena berharap lebih mudah menemukan pasangan hidup. Ia mengaku tidak puas dengan budaya berkencan yang dinilainya kompetitif, terutama di Seoul.

Baca juga: Produksi Beras Indonesia Naik 13,29 Persen, Pemerintah Perkuat Swasembada Pangan

“Kebanyakan pria melakukannya untuk mencari istri,” kata Yusuf.

Ketertarikan terhadap Ajaran Islam

Masjid Pusat Seoul di kawasan Itaewon menjadi salah satu tempat warga Korea mempelajari Islam. Setiap bulan, sekitar lima hingga 25 orang mengikuti pelatihan dasar agama tersebut sebelum dapat mengucapkan syahadat sebagai tanda resmi memeluk Islam.

Sebagian besar peserta pembelajaran itu merupakan laki-laki. Sementara itu, perempuan yang menjadi mualaf juga memiliki alasan tersendiri, termasuk ketertarikan terhadap kesederhanaan ajaran Islam dan konsep ketuhanan yang esa.

Baca juga: Polri Tetapkan 3 Perusahaan Asing sebagai Tersangka Karhutla di Kalimantan

Areum, perempuan Korea berusia 30-an, melihat sejumlah nilai Islam memiliki kesamaan dengan budaya asalnya. Salah satunya adalah penghormatan kepada orang yang lebih tua.

Kesamaan tersebut membantunya menjelaskan keputusan berpindah agama kepada orang tuanya. Ia juga mengenang kunjungan pertamanya ke masjid di Seoul sebagai pengalaman yang membuatnya merasa “akhirnya seperti pulang ke rumah.”

Perwakilan Masjid Pusat Seoul menyebut warga Korea yang datang untuk mempelajari Islam umumnya berusia 20-an hingga 30-an. Sebagian di antaranya merasa kurang cocok dengan ekspektasi sosial, termasuk tekanan dalam hubungan asmara dan tuntutan kehidupan arus utama.

Baca juga: Rangkaian Jejak FISIP USK ke-6 Dimulai dengan Aksi Tanam Mangrove di Banda Aceh

Sejarah Islam dan Peran Media Sosial

Kehadiran Islam di Korea memiliki sejarah panjang melalui kedatangan pedagang dan pekerja Muslim. Meski demikian, komunitas Muslim lokal tidak berkembang secara berkelanjutan selama berabad-abad.

Perkembangan baru terjadi pada era modern, termasuk setelah Perang Korea pada 1950–1953. Saat itu, pasukan Turki yang terlibat dalam perang turut memperkenalkan Islam kepada masyarakat Korea. Sejak periode tersebut, perkembangan komunitas Muslim turut dipengaruhi situasi politik dan hubungan Korea dengan negara lain.

Pada era digital, media sosial menjadi salah satu sarana yang memperkenalkan Islam kepada masyarakat Korea Selatan. Ayana Jihye Moon, perempuan Korea yang memeluk Islam saat remaja, dikenal sebagai influencer mode Muslim dan kemudian menetap di Indonesia.

Baca juga: 15 Gampong di Aceh Terima Penghargaan Desa Antikorupsi

Selain itu, Daud Kim membagikan pengalaman hidupnya sebagai mualaf melalui YouTube. Konten yang menampilkan perpaduan identitas Korea dan Islam, termasuk penggunaan hijab bersama hanbok, turut memperlihatkan bagaimana kedua identitas tersebut dapat berjalan berdampingan.

Meski menghadapi diskriminasi atau pengucilan di lingkungan tertentu, sebagian mualaf mengaku memperoleh dukungan dari komunitas Muslim. Yusuf, misalnya, mulai mengenal Islam setelah bertemu teman-teman Muslim di sebuah klub bahasa Inggris.

Pengalaman tersebut memperluas pandangannya terhadap kehidupan di luar lingkungan budaya yang selama ini dikenalnya. Beragam kisah para mualaf itu memperlihatkan bahwa keputusan memeluk Islam dapat berkaitan dengan keyakinan spiritual, pencarian jati diri, serta kebutuhan untuk menemukan lingkungan sosial yang mendukung.

Share
Tulisan Terkait

Warga Tionghoa Banda Aceh Ucap Syahadat di Masjid Raya Baiturrahman

PUNCA.CO – Seorang warga keturunan Tionghoa di Banda Aceh, Edi Setiawan, mengucapkan...