PUNCA.CO – Seseorang yang tetap tersenyum, aktif bersosialisasi, dan berprestasi di tempat kerja belum tentu terbebas dari masalah kesehatan mental. Di balik penampilan yang terlihat baik-baik saja, sebagian orang mungkin menyimpan kesedihan mendalam yang dikenal dengan istilah smiling depression.
Dilansir dari BBC Indonesia (18/10/2026), istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika seseorang terlihat bahagia di hadapan orang lain, tetapi mengalami tekanan psikologis. Meski populer di internet, smiling depression bukan diagnosis medis yang diakui secara resmi.
“Kondisi ini menggambarkan seseorang yang tampak bahagia di luar, padahal di dalam dia merasa terpuruk dan depresi,” tutur Olivia Remes, peneliti kesehatan mental dari Universitas Cambridge, Inggris.
Baca juga: PT PEMA Matangkan Strategi Penguatan Bisnis Hasil Diversifikasi Menuju 2027
Depresi sendiri ditandai dengan kesedihan berkepanjangan atau hilangnya minat terhadap aktivitas yang sebelumnya menyenangkan. Gejalanya dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan dan mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, tidur, serta kehidupan sehari-hari.
Sebagian orang juga dapat mengalami gejala depresi yang tidak sesuai dengan gambaran umum. Mereka mungkin tidur atau makan lebih banyak, sementara suasana hati dapat membaik ketika menghadapi peristiwa menyenangkan.
Mengapa Depresi Disembunyikan?
Tidak semua orang menyadari bahwa dirinya mengalami depresi. Sebagian menganggap gejala yang muncul sekadar akibat kesibukan atau tekanan hidup.
“Mereka mungkin mengira gejala yang dialami hanyalah dampak dari gaya hidup yang sibuk dan penuh tekanan,” kata Remes
Sementara itu, orang yang menyadari kondisi psikologisnya terkadang memilih menyembunyikannya karena takut dinilai negatif, dianggap sebagai beban, atau mengalami dampak terhadap karier dan hubungan pribadi. Perfeksionisme serta ekspektasi keluarga dan lingkungan juga dapat membuat seseorang enggan mengakui kesulitannya.
Tujuh Tanda Depresi yang Kerap Terlewatkan
Sejumlah perubahan perilaku yang patut diperhatikan meliputi:
Baca juga: Misi Dagang Aceh-Jatim Catat Transaksi Rp1,079 Triliun
1. Kehilangan minat: Aktivitas yang sebelumnya menyenangkan mulai terasa sebagai beban.
2. Anggota tubuh terasa berat: Tangan atau kaki terasa berat sehingga gerakan sehari-hari membutuhkan usaha lebih besar.
3. Sering membatalkan rencana: Seseorang mendadak membatalkan kegiatan sosial ketika kesulitan mengendalikan perasaannya.
4. Tidur lebih lama tetapi tetap lelah: Waktu istirahat bertambah, tetapi energi tetap terasa terkuras.
Baca juga: Partai Aceh Ajak Kader Muda Bergerak Perhatikan Kesehatan dan Lingkungan Hidup
5. Sensitif terhadap kritik: Komentar atau penolakan kecil terasa jauh lebih menyakitkan.
6. Terlalu aktif membantu orang lain: Seseorang berusaha menjadi pusat perhatian, bekerja berlebihan, atau terus membantu orang lain meski sedang tertekan.
7. Berbicara negatif kepada diri sendiri: Muncul keraguan diri, perasaan tidak berharga, dan kehampaan meskipun terlihat percaya diri.
Gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami depresi. Penilaian kondisi kesehatan mental perlu dilakukan dengan mempertimbangkan gejala lain dan bantuan tenaga profesional.
Baca juga: Diduga Hendak Dijual ke Aceh Barat Daya, 640 Liter Solar Subsidi Disita Polisi
Cara Menghadapi Depresi Tersembunyi
Menyembunyikan tekanan psikologis dapat membuat seseorang terlambat memperoleh pertolongan. Psikolog klinis dari Universitas Exeter, Inggris, Barney Dunn, menekankan pentingnya hubungan sosial dalam menghadapi suasana hati yang buruk.
“Depresi membuat terisolasi dan merasa kesepian, padahal salah satu obat terbaik untuk suasana hati yang buruk adalah terhubung dengan orang lain,” kata Dunn.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah berbagi perasaan dengan orang tepercaya dan mencari bantuan tenaga kesehatan jika gejala mengganggu kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Empat Nelayan Diamankan dari Kapal di Lampulo, Polisi Dalami Temuan Diduga Narkotika
“Ada bukti ilmiah yang kuat bahwa berbicara, penggunaan obat (antidepresan), dan terapi sosial, semuanya efektif untuk menangani kondisi ini,” jelas Dunn.
Mengenali perubahan perilaku dan mencari bantuan sejak dini menjadi langkah penting agar masalah kesehatan mental tidak terus tersembunyi di balik senyuman.






