PUNCA.CO – Artikel yang memuat isu desakan pergantian Ketua DPRA Zulfadhli menuai kritik. Artikel yang terbit di media Dialeksis pada Rabu (18/3/2026), dengan judul “Krisis Kepemimpinan di DPRA, Desakan Ganti Nahkoda?” dinilai sengaja menciptakan atmosfer politik belah bambu di Aceh.
Salah satu kritikan muncul dari Yusri, salah seorang pengurus DPP Partai Aceh. Dia mempertanyakan klaim dalam artikel tersebut yang menyebut adanya desakan dari kelompok masyarakat sipil dan internal DPRA agar Zulfadhli dievaluasi.
“Kelompok masyarakat sipil yang mana yang meminta ketua DPRA di evaluasi? Dan internal DPRA yang dimaksud itu siapa? Ini media kok makin aneh, giring opini ngk jelas,” ujar Yusri dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).
Baca juga: Kak Na Mualem Keliling Kota Bagi-Bagi Daging Meugang
Ia menegaskan, kritik terhadap pemerintah merupakan tugas legislatif. Namun, tudingan yang tidak disertai bukti dinilai berpotensi menimbulkan persoalan hukum.
Menurutnya, jika klaim tidak didukung data yang jelas, hal itu bisa mengarah pada pencemaran nama baik, ujaran kebencian, hingga penyebaran hoaks.
“Kalau ada sebagian pengamat, analisis, PNS aktif bahkan aktivis mahasiswa yang menilai kinerja ketua DPRA itu wajar-wajar saja. Di daerah manapun itu juga ada. Dan itu bagus, bagian dari demokrasi, kita semua bebas berpendapat,” tambahnya.
Baca juga: Tashmim Aceh Salurkan Donasi untuk Anak Yatim, Piatu dan Dhuafa Jelang Lebaran
Yusri atau akrab dipanggil Pale, juga menyoroti isi artikel yang menyebut adanya kericuhan internal DPRA serta mosi tidak percaya dari sejumlah anggota terhadap Zulfadhli. Ia meminta agar klaim-klaim tersebut dibuktikan dan tidak dibuat-buat.
Menurutnya, jika benar ada sebagian kecil atau 11 dari 81 anggota yang tidak setuju dengan kebijakan Ketua DPRA, hal itu merupakan dinamika biasa.
Dialeksis dinilai sengaja menggiring isu tersebut secara sistematis dan tahu bahwa di DPRA mayoritas perwakilan Partai Aceh, jadi mencoba membangun isu “belah bambu” di Fraksi PA di DPRA. Bahkan beberapa pernyataan panglima Wilayah Tengahpun yang terkesan sengaja dikejar, menjadi dasar kuat bahwa dialeksis sengaja menciptakan kisruh ditubuh Partai Aceh
Baca juga: Tingkatkan Keamanan, Bank Aceh Rilis Action Mobile Versi Baru
Lebih lanjut, ia menilai artikel tersebut juga terkesan sengaja merangkai kembali berbagai isu terkait Zulfadhli yang mengarah pada serangan personal. Mungkin ada kepentingan personal dialeksis yang tidak terpenuhi makanya menyerang personal ketua DPRA. Hal itu dinilai berbahaya karena dapat merusak independensi media.
Pale juga menyinggung pernyataan juru bicara KPA, Jack Libya yang ungkit dalam artikel tersebut, yang disebut mendukung pergantian Ketua DPRA. Namun, menurutnya, pernyataan tersebut akhirnya telah dibantah langsung oleh Wakil Panglima KPA, Darwis Jeunib.
“Malahan selang beberapa hari Jack Libya mengeluarkan pernyataan ulang melalui media lain terkait pernyataan sebelumnya yang disampaikan di Dialeksis,” ujarnya.
Baca juga: Kembali Kirim Bantuan Sapi Meugang Rp. 72,7 Miliar, Mualem Apresiasi Prabowo
Jadi jika di lihat, menurut Yusri, Jack Libya sengaja diarahkan untuk mengeluarkan pernyataan yang menyerang kader KPA/PA itu sendiri, jadi bisa dikatakan dialeksis mencatut nama Jack Libya yang bisa jadi berita sudah lebih dulu ditulis oleh Dialeksis sendiri.
Yusri menyebut polemik ini sebagai produk pemberitaan yang tidak bertanggung jawab, mengarah pada penghancuran Partai Aceh, dan berpotensi menciptakan iklim politik yang tidak sehat di Aceh.
Baca juga: Harga Tiket Pesawat Jakarta – Banda Aceh Melonjak Saat Mudik Lebaran
“Kami membaca dan mengindikasikan bahwa polemik eksekutif dan legislatif selama ini biang keroknya media dialeksis, memelihara isu polemik antara sekda dan ketua DPRA, sehingga mereka dapat memainkan terus kepentingan dan keuntungan medianya,” ungkap Yusri.
“Sebagai kader PA, Yusri berharap media dapat menjalankan aktivitas jurnalistik secara profesional, bukan menciptakan polemik untuk kepentingan sempitnya. Kita harus jaga perdamaian Aceh demi Aceh yang maju dan Sejahtera,” tutup Yusri.










