Home Internasional Harga Minyak Dunia Anjlok 5 Persen Usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Internasional

Harga Minyak Dunia Anjlok 5 Persen Usai Kesepakatan Damai AS-Iran

Share
Harga Minyak Dunia Anjlok 5 Persen Usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Ilustrasi kilang minyak. | Dok. shasolo.com
Share

PUNCA.CO – Harga minyak dunia mengalami penurunan tajam sekitar 5 persen pada perdagangan Selasa, mencapai posisi terendah dalam tiga bulan terakhir. Pelemahan ini terjadi setelah munculnya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka peluang beroperasinya kembali Selat Hormuz.

Pasar juga merespons positif rencana kembalinya Iran ke pasar energi global melalui ekspor minyak mentah. Kondisi tersebut memicu tekanan terhadap harga minyak yang sebelumnya sempat menguat akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dilansir Detik.com (17/6/2026), Minyak mentah Brent tercatat turun US$ 4,21 atau 5,1 persen menjadi US$ 78,96 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah US$ 4,70 atau 5,8 persen ke level US$ 76,05 per barel.

Baca juga: Kegiatan Aksi Nyata Pemuda Aceh di SDN 1 Baktiya Aceh Utara, Jangkau Ratusan Siswa

Penutupan perdagangan tersebut menjadi yang terendah bagi Brent sejak 2 Maret dan bagi WTI sejak 4 Maret. Sebelum konflik AS-Iran pecah pada 28 Februari, harga Brent berada di level US$ 72,48 per barel, sedangkan WTI ditutup pada US$ 67,02 per barel.

Direktur Energy Futures Mizuho Bob Yawger mengatakan, “Harga minyak mentah turun cepat karena pasar berasumsi Selat Hormuz akan segera dibuka kembali.”

Sebelum konflik berlangsung, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz. Pada Selasa, rincian kesepakatan sementara antara AS dan Iran mulai terungkap ke publik.

Baca juga: Penuhi Undangan Kemendagri, Pemerintah Aceh Bahas Tujuh Poin Inti Revisi UUPA

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perjanjian tersebut menjamin Iran tidak akan memiliki senjata nuklir. Selain itu, seorang pejabat AS menyebut Iran akan kembali diperbolehkan menjual minyak ke pasar internasional setelah kesepakatan resmi ditandatangani.

Kesepakatan itu juga memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April selama 60 hari tambahan. Selain itu, Selat Hormuz yang sebelumnya diblokir Iran sejak serangan AS dan Israel akan kembali dibuka.

Meski demikian, sejumlah kalangan masih meragukan implementasi kesepakatan tersebut. Para ahli menilai proses normalisasi pelayaran dan ekspor energi kemungkinan memerlukan waktu beberapa pekan sebelum berjalan sepenuhnya.

Baca juga: Gempa M 3,9 Guncang Pesisir Aceh, BMKG Pastikan Belum Ada Kerusakan dan Gempa Susulan

Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak dunia juga datang dari faktor ekonomi global. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi China, inflasi yang meningkat, suku bunga tinggi, serta upaya AS mendorong perdamaian antara Rusia dan Ukraina turut memengaruhi sentimen pasar.

Trump juga menyampaikan bahwa Rusia perlu mencapai perdamaian dengan Ukraina setelah bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Pernyataan itu memunculkan optimisme hati-hati di kalangan pemimpin G7 terkait peluang tercapainya kesepakatan damai.

Apabila perang Rusia-Ukraina berakhir, sebagian sanksi terhadap Rusia berpotensi dicabut. Kondisi tersebut dapat meningkatkan ekspor minyak Rusia, yang menurut data energi AS merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia pada 2025 setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Share
Tulisan Terkait

Iran Tegaskan AS Tak Bisa Lagi Mendikte, Selat Hormuz Jadi Kunci Negosiasi

JAKARTA – Iran menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak lagi memiliki otoritas untuk...