PUNCA.CO – Kisah Djoko Susanto membangun Alfamart bermula jauh sebelum jaringan minimarket tersebut memiliki lebih dari 23.000 gerai di Indonesia. Pria yang lahir dengan nama Kwok Kwie Fo itu mengawali perjalanan bisnisnya dengan membantu sang ibu mengelola warung kelontong di Petojo, Jakarta Pusat.
Dilansir CNBC Indonesia (27/9/2026), sejak muda, Djoko sudah mengenal aktivitas perdagangan. Ia sempat bekerja di perusahaan perakitan radio sebelum akhirnya kembali membantu usaha keluarga. Pengalaman tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya di dunia bisnis.
Djoko kemudian mengembangkan Toko Sumber Bahagia, toko kelontong yang menjual kebutuhan sehari-hari, mulai dari kacang tanah, minyak sayur, sabun hingga rokok.
Baca juga: Tiga Pengasuh Daycare di Banda Aceh Divonis hingga 3 Tahun karena Kekerasan Anak
Seiring perkembangan usaha, penjualan semakin berfokus pada komoditas rokok. Djoko menggandeng produsen rokok Gudang Garam sebagai mitra utama dan memperluas jaringan distribusinya.
Berdasarkan catatan sejarawan Sam Setyautama dalam buku Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa Di Indonesia (2008), Djoko pada 1987 telah mengelola 15 jaringan toko grosir. Ia juga tercatat sebagai penjual rokok terbesar untuk produk Gudang Garam.
Perjalanan bisnis Djoko kemudian memasuki babak baru setelah bertemu Putera Sampoerna pada akhir 1986. Pertemuan tersebut membawanya masuk ke jajaran manajemen PT HM Sampoerna.
Baca juga: Mahasiswa Poltekpel Malahayati Meninggal, Penyebab Kematian Masih Tunggu Hasil Forensik
“Ia diangkat menjadi direktur penjualan PT Sampoerna yang membawa PT HM Sampoerna ke peringkat kedua terbesar setelah Gudang Garam,” tulis Sam Setyautama.
Djoko selanjutnya dipercaya menjadi direktur PT Panarmas, distributor utama rokok Sampoerna. Dalam posisi tersebut, ia turut terlibat dalam peluncuran Sampoerna A Mild pada 1989.
Pada tahun yang sama, Djoko mendirikan PT Alfa Retailindo. Gudang milik Sampoerna di Jalan Lodan Nomor 80 kemudian diubah menjadi pusat grosir bernama Toko Gudang Rabat.
Baca juga: Tim Voli Bank Aceh Juarai Open Turnamen Bola Voli HUT TNI ke-81
“Dengan modal Rp2 miliar, gudang itu disulap menjadi Toko Gudang Rabat, dengan 40% saham dimiliki Putera Sampoerna, dan sisanya dimiliki Kwok Kwie Fo (alias Djoko Susanto),” tulis Sam Setyautama.
Memasuki era 1990-an, bisnis tersebut berkembang hingga memiliki 32 gerai. Konsepnya kemudian berubah menjadi minimarket dan pada 18 Oktober 1999 resmi menggunakan nama Alfa Minimart di bawah PT Sumber Alfaria Trijaya.
Gerai pertama Alfa Minimart berdiri di Jalan Beringin Raya, Tangerang. Perkembangan bisnis yang pesat kemudian mendorong perusahaan melantai di bursa pada 18 Januari 2000 dengan kapitalisasi pasar yang saat itu ditaksir mencapai US$108,29 juta.
Baca juga: Banjir dan Longsor Kembali Terjadi di Gayo Lues, 33 KK Desa Pasir Terisolir
Pada 1 Januari 2003, Alfa Minimart resmi berganti nama menjadi Alfamart. Ekspansi pun terus dilakukan hingga jaringan tersebut berkembang menjadi Grup Alfamart yang kini mengoperasikan lebih dari 23.000 gerai di Indonesia, termasuk melalui Alfamidi dan Lawson.






