Home Ekonomi SpaceX Bidik Pasar Seluler, Operator Indonesia Hadapi Tantangan Baru
Ekonomi

SpaceX Bidik Pasar Seluler, Operator Indonesia Hadapi Tantangan Baru

Share
SpaceX Bidik Pasar Seluler, Operator Indonesia Hadapi Tantangan Baru
Ilustrasi orang sedang menggunakan HP. | Dok. frepik.com
Share

PUNCA.CO – SpaceX memperluas ambisi bisnisnya ke sektor telekomunikasi seluler melalui pembelian lisensi spektrum frekuensi di Amerika Serikat. Langkah perusahaan milik Elon Musk tersebut berpotensi memperkuat layanan Starlink Mobile dan menghadirkan persaingan baru bagi operator seluler, termasuk di Indonesia jika ekspansi serupa dilakukan ke Asia Tenggara.

Dilansir CNBC Indonesia (9/10/2026), pada Kamis, 8 Oktober 2026, SpaceX mengumumkan kesepakatan pembelian portofolio lisensi spektrum milik perusahaan investasi Grain Management. Portofolio tersebut mencakup hingga 14 MHz spektrum berpasangan pada pita frekuensi 800 MHz.

Frekuensi rendah tersebut memiliki nilai strategis karena mampu menjangkau wilayah yang luas dan menembus bangunan dengan lebih baik dibandingkan sejumlah pita frekuensi yang lebih tinggi.

Baca juga: Tindaklanjuti Arahan Mendagri, Dek Fadh Minta Alat Berat Standby dan Sungai Dangkal Segera Ditangani

Elon Musk turut menanggapi kesepakatan tersebut melalui akun X miliknya.

“Ini adalah kesepakatan yang sangat besar,” tulis Musk.

SpaceX menyebut akuisisi tersebut dapat mengatasi salah satu kendala teknis yang masih dihadapi perusahaan dalam mengembangkan Starlink Mobile. Dengan dukungan spektrum tambahan, layanan tersebut berpeluang memperluas jangkauan dan bersaing lebih langsung dengan operator seluler konvensional.

Baca juga: Kedaulatan Laut Patani Raya

Perkembangan tersebut menjadi perhatian bagi industri telekomunikasi Indonesia, terutama Telkomsel, Indosat, dan XLSmart. Apabila SpaceX menerapkan strategi serupa di Asia Tenggara, persaingan penyedia layanan seluler berpotensi mengalami perubahan.

Pita frekuensi 800 MHz sendiri dikenal sebagai salah satu spektrum bernilai tinggi untuk memperluas jangkauan jaringan, termasuk ke wilayah perdesaan dan daerah terpencil. Di Indonesia, operator juga memanfaatkan frekuensi rendah untuk mendukung cakupan layanan telekomunikasi.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menyelesaikan lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz. Dalam lelang tersebut, XL Axiata memperoleh blok selebar 30 MHz atau 2×15 MHz dengan nilai penawaran Rp1.060.200.000.000.

Baca juga: Per 7 Oktober Serapan TKD Tambahan untuk Bencana Aceh Capai 35 Persen

Sementara itu, Telkomsel mengajukan penawaran untuk blok 20 MHz atau 2×10 MHz senilai Rp642,5 miliar. Indosat juga mengajukan penawaran untuk blok 20 MHz atau 2×10 MHz dengan nilai Rp507.480.000.000.

Berbeda dari jaringan seluler yang mengandalkan pembangunan menara BTS, teknologi satelit yang terhubung langsung ke ponsel memungkinkan layanan menjangkau lokasi yang belum memiliki infrastruktur jaringan darat. Pendekatan ini dapat mengurangi ketergantungan pada pembangunan menara yang membutuhkan biaya dan waktu.

Starlink saat ini telah menyediakan layanan internet tetap berkecepatan tinggi di Indonesia. Namun, langkah terbaru SpaceX di Amerika Serikat menunjukkan upaya perusahaan untuk memperluas bisnisnya ke layanan seluler yang berpotensi bersaing langsung dengan operator konvensional.

Baca juga: Zaini Bakri Gantikan Mawardi Basyah sebagai Anggota DPRA

Hingga berita ini ditulis, belum ada pengumuman resmi mengenai rencana SpaceX mengajukan lisensi spektrum serupa di Indonesia.

Share
Tulisan Terkait

Elon Musk Ditunjuk Pentagon Pimpin Studi Perang Masa Depan

PUNCA.CO – Elon Musk mendapat peran penasihat resmi dari pemerintahan Presiden Amerika...