PUNCA.CO – Pemerintah Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, meluncurkan program Gerakan Jelantah Jadi Rupiah untuk mengubah limbah minyak goreng bekas menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat.
Dilansir Kompas.com (31/10/2026), program yang dijalankan bersama Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Purworejo tersebut resmi diperkenalkan di Gedung Arahiwang, Setda Purworejo, Jumat (30/10/2026).
Melalui gerakan ini, masyarakat diajak mengumpulkan minyak jelantah agar tidak dibuang ke saluran air maupun lingkungan sekitar. Limbah yang terkumpul nantinya dapat dijual sehingga memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi pencemaran.
Baca juga: Kemenhut Jerat Dua Korporasi Kasus Kebakaran Hutan, 11 Perusahaan Masih Disidik
Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi menjelaskan, minyak jelantah termasuk limbah rumah tangga yang berpotensi merusak lingkungan apabila tidak ditangani dengan benar.
Dalam kegiatan tersebut disampaikan bahwa satu rumah tangga rata-rata menghasilkan 1,2 hingga 1,5 liter minyak jelantah setiap bulan.
“Satu liter minyak jelantah yang dibuang ke sungai saja bisa mencemari hingga 1.000 liter air. Bayangkan potensi kerusakan jika tidak dikelola dengan benar,” kata Dion dalam keterangan resminya, Sabtu (31/10/2026).
Baca juga: Kronologi Peretasan Binance: Aset Kripto Rp114 Triliun Raib dalam 20 Menit
Libatkan Perusahaan Pembeli Minyak Jelantah
Untuk menjalankan program tersebut, TP PKK Kabupaten Purworejo bekerja sama dengan PT Biosirkular Inovasi Indonesia sebagai mitra pengumpul sekaligus pembeli minyak jelantah.
Perusahaan tersebut menawarkan harga pembelian Rp7.000 per liter untuk minyak jelantah yang dihimpun kader PKK. Dion berharap mekanisme transaksi juga memberikan keuntungan bagi kader di tingkat desa dan kecamatan melalui margin penjualan.
Tambahan pendapatan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan organisasi PKK di masing-masing wilayah.
Baca juga: Iran Klaim Empat Kapal Tanker Terbakar Usai Hantam Ranjau di Selat Hormuz
Sebelum diluncurkan secara resmi, Gerakan Jelantah Jadi Rupiah telah diuji coba di 16 desa binaan TP PKK Kabupaten Purworejo. Dari pelaksanaan awal tersebut, terkumpul sekitar 520 liter minyak jelantah.
Ketua TP PKK Kabupaten Purworejo, Raja Thifal Mazaya Izzati, menegaskan bahwa keberhasilan program membutuhkan keterlibatan masyarakat, bukan hanya pemerintah.
“Ada dua manfaat sekaligus yang kita dapatkan: ikut menjaga lingkungan tetap bersih dan mendatangkan nilai ekonomis bagi yang berpartisipasi,” ujarnya.
Baca juga: BBPOM Temukan Ribuan Kosmetik Tanpa Izin dan Obat dari Distributor Tak Berwenang
Ia juga meminta para camat dan perangkat daerah membantu menyebarluaskan informasi program hingga tingkat desa dan kelurahan. Sosialisasi turut diarahkan kepada pengelola desa wisata serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berpotensi menghasilkan minyak jelantah dalam jumlah besar.
Dengan wilayah yang mencakup 494 desa, pengumpulan minyak akan dikoordinasikan melalui penanggung jawab atau person in charge (PIC) serta kader PKK setempat.
Masyarakat hanya perlu menyimpan minyak jelantah dalam wadah bersih dan memastikan tidak tercampur bahan lain sebelum disetorkan melalui mekanisme yang disediakan pengelola program.
Baca juga: Putin Bantah Rusia Dalangi Demonstrasi Rusuh di Eropa
Peluncuran program tersebut turut dihadiri Ketua Bidang IV TP PKK Provinsi Jawa Tengah Lucia Tri Harso, Wakil Ketua III TP PKK Purworejo Dra. Titik Mintarsih, Direktur PT Biosirkular Inovasi Indonesia Dicka Dwi Candra, serta sekitar 130 peserta dari unsur perangkat daerah, camat, dan kader PKK.
Pemkab Purworejo berharap gerakan ini berkembang menjadi kebiasaan masyarakat dalam memilah dan mengelola limbah rumah tangga. Dengan demikian, minyak jelantah tidak lagi sekadar menjadi sampah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.






