Informasi itu menyebar luas dalam waktu yang sangat cepat, tidak hanya melalui telepon seluler, mulut ke mulut, bahkan di media sosial dan media-media resmi. Deklarator Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tengku Chik Di Tiro Hasan ben Muhammad, diumumkan meningggal tepat pada Kamis siang, 6 Juni 2010, di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh.
Tengku Hasan Di Tiro meninggal akibat komplikasi penyakitnya pada usia ke-84. Ia merupakan tokoh penting dalam tonggak sejarah Aceh, jasanya tak terhitungkan dalam perjuangan yang ia bangun sejak tahun 1973, yang kemudian dideklarasikan bersama para sahabatnya pada 4 Desember 1976 di Gunung Halimon, Tiro, Pidie. Jenazah Wali Tengku Hasan Di Tiro dikebumikan di sebelah kakeknya, Tengku Chik Di Tiro Syeh Muhammad Saman, atau yang dikenal dengan Tengku Chik Di Tiro.
Kini, 16 tahun berlalu, pimpinan tertinggi politik GAM itu telah menghadap Sang Khaliq, dan saban tahun oleh rakyat Aceh, kombatan GAM yang juga Komite Peralihan Aceh (KPA), jajaran Partai Aceh, serta kader dan simpatisannya memperingati hari berpulangnya Wali Nanggroe Aceh itu.
Baca juga: Mualem Kenang Tengku Hasan Muhammad di Tiro Sebagai Sosok Idiolog Sejati
Tengku Hasan Di Tiro meninggalkan Aceh untuk terus memperjuangkan sisa-sisa perjuangan yang ia cetuskan. Menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat Aceh secara menyeluruh, terutama pasca perdamaian MoU Helsinki, 15 Agustus 2005.
Adapun, penulis pertama sekali berbincang dengan Wali Tengku Hasan Di Tiro via telpon, dalam durasi singkat, tepat saat gagalnya Sidang Joint Council di Tokyo, Jepang, pada 17-18 Mei 2003. Lalu berlanjut ketika Pemerintah Republik Indonesia memberlakukan Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2003 tentang darurat militer tahap pertama untuk Aceh pada 19 Mei 2003.
Penulis sempat bertemu langsung dengan Wali Tengku Hasan Di Tiro pada Selasa, 14 Oktober 2008, jam 10.25 WIB, di rumah duka almarhum Menteri Keuangan GAM, Tengku Muhammad Usman Lampoh Awe, di Lampoh Nana, Gampong Blang Raya, Kecamatan Muara Tiga-Laweung, Pidie. Di hari ke-14 meninggalnya Tengku Muhammad, atau yang dikenal dengan Mentroe Peng.
Baca juga: 5.484 Air Zamzam Sudah Tiba di Aceh, Jamaah Haji Diingatkan Tak Membawanya dalam Koper
Jauh hari, Wali memang sudah mengagendakan untuk melayat ke rumah duka. Penulis selaku ahlul bait pun ditunjuk sebagai koordinator untuk ikut menyiapkan berbagai hal, baik keamanan maupun menu makanan khas kesukaan secara khusus bagi pucuk pimpinan GAM itu. Kami menyajikan kepada Wali lauk pauk dari labu (kuwah leumak boh labu), timphan, dan makanan khas Aceh lainnya.
Begitu Hasan Tiro dan rombongan tiba, atas kesepakatan dengan Pasukan Pengawal Khususnya eks Tripoli, kami langsung menuntunnya ke dalam rumah. Di bagian utara rumah duka telah tersedia tilam berhias pelamin yang kami khususkan. Wali Hasan duduk di pelamin itu, diapit kiri kanan oleh almarhumah Pocut Sariwati binti Pakeh Mahmud (istri almarhum Tgk. Muhammad Usman Lampoh Awe), dan Perdana Menteri GAM, Tengku Malik Mahmud Al-Haythar (Wali Nanggroe Aceh sekarang), serta Dr. Zaini Abdullah (Menteri Luar Negeri GAM) dan Tengku Syarif Usman (staf khusus Wali Tengku Hasan Di Tiro). Penulis ikut menemani di samping Nyak Sari, panggilan kepada Almarhumah Pocut Sariwati.
Ketika kami mempersilahkan Wali Hasan untuk mencicipi sajian makanan yang sudah ada, Wali langsung menunjuk “kuwah bôh labu”, dan Tengku Syarif Usman langsung memenuhi permintaan tersebut. Menariknya beliau kembali meminta “kuwah bôh labu” untuk kedua kalinya. Bedanya, kali ini pada Nyak Sari.
“Mangat that bôh labu njoë, neu-tulóng Njak bri sikrak treuk!
(Enak sekali kuah labu ini, tolong Nyak Sari berikan saya satu lagi)” ujar Wali Hasan. “Djeut Teungku! (Boleh, Tengku),” saut Nyak Sari.
Melihat langsung momen tersebut, saya terkesima dengan cara beliau bertutur kata nan lembut. Perbincangan keduanya berlanjut, dan Wali Hasan sempat menyampaikan petuah atas nikmat yang sudah Tuhan beri.
“Njoëkeuh saboh nikmat jang ka Allah SWT bri keu-geutanjoë bangsa Atjèh, bôh labu djeut keu-mangat that (Inilah satu nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada bangsa Aceh, labu saja begitu enaknya),” lanjut Wali Hasan. “Alhamdulillah, Tengku!
(Alhamdulillah, Tengku!),” ujar Nyak Sari.
Baca juga: Polda Aceh Launching Buku “Polda Aceh Meutuah”, Libatkan Akademisi hingga Para Jurnalis Senior
Sisa potongan labu itu, rencana mau penulis habiskan, tetapi sayang keburu diambil orang lain. Lalu kami lanjut mengantarkan Wali Hasan ke kamar untuk sejenak istirahat.
Pada Sabtu, 19 Oktober 2008, penulis kembali bertemu dengan Wali Hasan di pendopo Bupati Pidie, tempat beliau nginap. Di sana ia menyampaikan amanah kepada penulis, bahwa hari ini Aceh sudah berada dalam suasana yang damai dan meminta agar menjaga perdamaian ini hingga sempurna. Karena menurutnya sangat sulit untuk merajut sebuah perdamaian. Lanjutnya, kita tidak perlu mengeluh dan lelah dalam menjaga perdamaian, apalagi sudah menjadi tugas anda sebutnya kepada penulis, supaya tindak lanjut dari apa saja yang sudah Anda kerjakan beberapa waktu yang lalu (masa konflik).
Lebih lanjut, pesannya agar mampu menjaga damai sampai tuntas, sehingga masyarakat Aceh tidak lagi terkungkung dalam kesengsaraan dan kemudharatan. Dalam kesempatan tersebut, sejenak penulis ikut menyampaikan perkembangan kebun pisang barangan di kawasan Laweueng yang kami bangun bersama beberapa kawan eks kombatan lainnya, sekaligus menyerahkan hasil reportase lahan pisang tersebut melalui Meuntroe Malik kala itu.
Baca juga: Menuju Jantho sebagai Pusat Peradaban Aceh Masa Kini
Fakta lain, kerapian sosok Wali Hasan tidak perlu diragukan. Kami sudah melihatnya sendiri, kala itu ketika menonton televisi bersamanya dalam siaran langsung reportase kepulangannya ke Aceh yang disiarkan Metro TV. Malam itu, di pendopo Bupati Pidie juga ikut serta Meuntroe Malik, Dr. Zaini Abdullah, Muzakkir Abdul Hamid, Musanna Abdul Wahab, dan Bupati Pidie, Mirza Ismail, serta beberapa orang lain.
Beliau sangat rapi, necis serta ramah. Kerapiannya mungkin menjadi inspirasi bagi kalangan muda dulu dan masa akan datang. Cara berpakaiannya pun mencerminkan bagian dar kewibawaan dan kemajuan Aceh.
Baca juga: Jemaah Haji Aceh Kembali ke Tanah Air 15 Juni Mendatang
Menurut penulis, hampir tidak ada kekurangan sedikit pun dari sosok Wali Hasan. Semoga do’a, tahlil, dan samadiah kita semua pada hari ini sampai padanya di sana. Aminnn.
Penulis: Suadi Sulaiman (Adi Laweung), Mantan Juru Bicara GAM Wilayah Pidie, Mantan Juru Bicara DPP Partai Aceh, Wakil Ketua DPP Partai Aceh










