Home Ekonomi Harga Smartphone Berpotensi Naik Akibat Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Ekonomi

Harga Smartphone Berpotensi Naik Akibat Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Share
Harga Smartphone Berpotensi Naik Akibat Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Iustrasi Smartphone. | Dok. Reuters/ Violeta Santos Moura
Share

PUNCA.CO – Harga smartphone di Indonesia berpotensi mengalami kenaikan seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada Kamis (4/6/2026) pagi, kurs rupiah tercatat telah menembus level Rp18.000 per dolar AS.

Kondisi tersebut berisiko memengaruhi harga perangkat ponsel yang masih diproduksi atau menggunakan komponen dari luar negeri. Ketergantungan terhadap bahan baku dan produk impor membuat fluktuasi kurs sulit dihindari dampaknya terhadap harga jual.

Salah satu contoh terlihat pada iPhone 17 Series. Dibandingkan saat pertama kali diluncurkan pada pertengahan Oktober lalu, harga perangkat tersebut kini lebih tinggi. iPhone 17 varian 256GB saat ini dijual mulai Rp17,999 juta, naik dari harga peluncuran Rp17,249 juta.

Baca juga: Enam Belas Tahun Ditinggal Tengku Hasan Di Tiro

Kenaikan juga terjadi pada iPhone 17 Pro varian 256GB yang kini dibanderol Rp24,999 juta, sementara saat rilis dipasarkan dengan harga Rp23,749 juta.

Dilansir CNN Indonesia, GM Marketing Apple PT MAP Zona Adi Perkasa Farah Fausa Winarsih sebelumnya mengakui penguatan dolar AS terhadap rupiah akan memengaruhi harga produk Apple di Indonesia.

“Kenaikan dolar (terhadap rupiah) itu kan adalah sesuatu yang enggak bisa kita kontrol. Maksudnya itu udah out of our hands lah gitu. Udah pasti akan ada efek ke dalam pricing-nya kita.”

Baca juga: Pasca Angin Kencang di Langkahan, Pemerintah Jamin Seluruh Huntara Diperbaiki

Ia menambahkan perusahaan terus menyesuaikan strategi harga mengikuti pergerakan kurs. Namun, Apple belum mengungkap besaran penyesuaian harga yang akan diterapkan.

“Aku enggak bisa bilang secara exact percentage-nya berapa, karena dolar aja tuh setiap saat berubah-berubah. Jadi kita selalu berusaha untuk beradaptasi dengan harga tersebut.” kata Farah.

Sebelum tekanan dari pelemahan rupiah muncul, industri ponsel lebih dulu menghadapi kenaikan biaya akibat krisis memori global. Sejak awal 2026, harga perangkat di berbagai segmen, mulai entry-level hingga flagship, mengalami kenaikan antara di bawah 10 persen hingga 25 persen.

Baca juga: Polda Aceh Launching Buku “Polda Aceh Meutuah”, Libatkan Akademisi hingga Para Jurnalis Senior

Xiaomi, misalnya, menaikkan harga seluruh lini Redmi Note 15 Series antara Rp300 ribu hingga Rp700 ribu. Kenaikan terbesar terjadi pada Redmi Note 15 Pro+ 5G varian 12/512GB yang kini dijual Rp6,799 juta, dibanding Redmi Note 14 Pro+ 5G yang sebelumnya dibanderol Rp5,999 juta.

Oppo juga melakukan penyesuaian harga pada Reno 15 Series. Varian Reno 15F mengalami kenaikan sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu dibanding generasi sebelumnya, sementara Reno 15 naik sekitar Rp200 ribu.

Di kelas premium, Samsung Galaxy S26 Series mengalami kenaikan lebih signifikan. Harga perangkat naik mulai Rp1,5 juta hingga Rp3 juta dibanding Galaxy S25 Series. Sebagai contoh, Galaxy S26 varian 12GB/256GB dipasarkan Rp16,499 juta, sedangkan Galaxy S25 dengan kapasitas serupa sebelumnya dijual Rp14,999 juta.

Baca juga: Dadan Hindayana, Eks Kepala BGN Ditetapkan sebagai Tersangka Korupsi MBG

Dampak kenaikan harga tersebut tercermin pada pasar. Laporan Counterpoint Research mencatat pengapalan smartphone ke Indonesia turun 9 persen secara tahunan pada kuartal 2026.

“Meskipun perekonomian Indonesia mencapai level tertinggi dalam 14 kuartal terakhir, didorong oleh belanja pemerintah dan pergeseran musim liburan ke kuartal pertama yang meningkatkan konsumsi domestik, pasar ponsel pintar justru mengalami penurunan. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh kenaikan harga yang berakar pada inflasi di pasar memori,” kata Senior Analyst Counterpoint Research Shilpi Jain.

“Dampaknya terlihat jelas baik pada model lama maupun produk baru yang diluncurkan, dengan kenaikan harga berkisar antara 7 persen hingga 45 persen. Segmen entry-level menjadi yang paling terpukul, karena konsumen menunda pembelian atau lebih memilih ponsel bekas,” tambahnya.

Share