PUNCA.CO – Marah kerap dianggap sebagai emosi negatif yang harus segera diredam. Namun, jika dikelola dengan tepat, manfaat marah dapat membantu seseorang memahami kebutuhan diri, memperbaiki hubungan, hingga mengambil tindakan terhadap masalah.
Dilansir Kompas.com (20/8/2026), Psikolog Jonice Webb, PhD, menjelaskan bahwa sejumlah penelitian mengaitkan kemarahan dengan motivasi, pemahaman diri, hubungan yang lebih baik, serta kemampuan bernegosiasi.
Penelitian Aarts dan rekan-rekannya pada 2010 menunjukkan bahwa orang yang melihat gambar wajah marah menjadi lebih terdorong untuk mendapatkan objek yang sebelumnya diperlihatkan kepada mereka.
Baca juga: Wabah Ebola Kongo Jadi yang Paling Mematikan dalam Sejarah
Menurut Webb, kemarahan dapat berfungsi sebagai pendorong ketika seseorang menginginkan atau membutuhkan sesuatu. Karena itu, emosi tersebut tidak selalu harus berakhir dengan ledakan amarah.
Sebagai contoh, ketika seseorang merasa terus diabaikan atau diperlakukan tidak adil, kemarahan bisa menjadi tanda adanya persoalan yang perlu diperhatikan. Penyebabnya dapat dikenali terlebih dahulu sebelum menentukan tindakan yang tepat.
Manfaat kemarahan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang mengenali masalah dalam hubungan. Penelitian Baumeister dan rekan-rekannya pada 1990 menemukan bahwa menyembunyikan kemarahan dalam hubungan dekat dapat merugikan karena pasangan kehilangan informasi mengenai persoalan yang sedang dirasakan.
Baca juga: Petugas Periksa Kondisi Pangan Segar di Sejumlah Pasar Kota Banda Aceh
Ketika kemarahan terus dipendam, orang lain bisa saja tidak mengetahui hal yang membuat seseorang kecewa atau terluka. Meski demikian, Webb menekankan bahwa kemarahan perlu disampaikan secara hati-hati, sesuai situasi, dan tetap mempertimbangkan perasaan orang lain.
Kemarahan juga dapat menjadi kesempatan untuk memahami diri. Penelitian Kassinove dan rekan-rekannya pada 1997 menemukan 55 persen responden menyebut pengalaman marah mereka menghasilkan sesuatu yang positif, termasuk membantu memahami kekurangan diri.
Dengan mengenali pemicu emosi tersebut, seseorang dapat mengetahui hal-hal yang dianggap penting sekaligus memahami batasan yang perlu dijaga dalam hubungan.
Baca juga: BGN Buka Kanal Khusus bagi Guru untuk Aduan dan Masukan Terkait MBG
Kemarahan yang disampaikan secara terukur juga dapat memengaruhi proses negosiasi. Penelitian Van Kleef dan rekan-rekannya pada 2004 menemukan peserta memberikan konsesi lebih besar dan mengajukan lebih sedikit tuntutan kepada orang yang menunjukkan kemarahan dibandingkan mereka yang tidak memperlihatkannya.
Temuan itu menunjukkan bahwa ekspresi kemarahan dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi respons orang lain saat melakukan tawar-menawar. Namun, bukan berarti seseorang perlu berpura-pura marah atau bersikap agresif untuk mendapatkan keinginannya.
“Kemarahan, ketika dikelola dan diekspresikan dengan tepat, adalah kekuatan,” kata Webb.
Baca juga: Diburu Polisi, Terduga Pelaku Pencurian Emas di Banda Aceh Serahkan Diri
Karena itu, yang terpenting bukan menghilangkan rasa marah, melainkan memahami penyebab dan pesan di baliknya. Dengan pengelolaan yang tepat, emosi marah dapat membantu seseorang mengenali kebutuhan, memperbaiki hubungan, dan mengambil langkah ketika menghadapi situasi yang dianggap tidak adil.






