PUNCA.CO – Arab Saudi sempat menetapkan siaga darurat Makkah pada Selasa (15/9/2026) di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi dari Yaman. Peringatan tersebut meminta warga menghindari kerumunan dan ruang terbuka serta mencari tempat berlindung.
Dilansir Tirto.id (16/9/2026), status siaga diumumkan Pertahanan Sipil Saudi melalui Sistem Peringatan Dini Nasional untuk Keadaan Darurat. Otoritas Saudi tidak menjelaskan secara rinci bentuk ancaman yang mendasari peringatan tersebut.
Tak lama setelah peringatan dikeluarkan, otoritas menyatakan potensi bahaya telah berlalu. Meski demikian, warga Makkah tetap diminta menghindari kerumunan.
Baca juga: Hari Keenam, SAR Perluas Pencarian Wisatawan Malaysia Hilang di Sabang Hingga 10 NM
Peringatan serupa juga diberlakukan di sejumlah wilayah lain, termasuk Jeddah, Taif, Yanbu, Abha, Jazan, dan Al Ula. Reuters melaporkan peringatan di sejumlah kota tersebut kemudian dicabut setelah ancaman dinyatakan mereda.
Situasi tersebut terjadi setelah Houthi meningkatkan serangan menggunakan misil dan drone ke sejumlah wilayah Arab Saudi. Pada Senin (14/9), juru bicara militer Saudi Turki al-Maliki menyebut sedikitnya 13 warga sipil terluka dalam serangkaian serangan yang menyasar Khamis Mushayt, Abha, dan Taif.
Serangan pada pekan sebelumnya juga dilaporkan terjadi di Abha, Khamis Mushayt, Jazan, dan Najran. Sebanyak 73 orang disebut terluka, sementara sejumlah fasilitas produksi komoditas energi terdampak.
Baca juga: Biaya Penyakit Akibat Rokok Capai Rp113,7 Miliar, Banda Aceh Perketat Pengendalian Tembakau
Peringatan di Makkah menjadi perkembangan penting dalam eskalasi tersebut. Pada Rabu (16/9), koalisi pimpinan Saudi juga menyatakan telah mencegat dan menghancurkan sebuah drone Houthi di selatan Makkah sebelum memasuki wilayah udara terbatas kota suci tersebut.
Saudi Siapkan Respons terhadap Houthi
Pemerintah Saudi pada Selasa menyatakan akan memberikan respons tegas terhadap serangkaian serangan Houthi. Di tengah situasi tersebut, Putra Mahkota Mohammed bin Salman melakukan kunjungan ke Mesir dan bertemu Presiden Abdel Fattah al-Sisi.
Dalam pertemuan itu, Sisi menyatakan dukungan terhadap upaya Saudi menjaga keamanan navigasi di Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah. Ia juga mendukung upaya mencapai penyelesaian politik yang berkelanjutan atas konflik di Yaman.
Baca juga: 25 Merek Beras Fortifikasi Bermasalah Ditarik, Kerugian Konsumen Capai Rp89 Triliun
Konflik Saudi-Houthi telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Houthi mengambil alih sebagian besar wilayah Yaman pada 2014, sebelum Saudi terlibat dalam konflik setahun kemudian dengan mendukung pemerintahan yang berseberangan dengan kelompok tersebut.
Ketegangan terbaru turut berkaitan dengan posisi strategis Bab el-Mandeb. Houthi telah memperluas pengaruhnya di sepanjang pesisir Laut Merah Yaman, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap jalur pelayaran dan distribusi energi.
Houthi selama ini kerap dikaitkan dengan Iran, tetapi pemerintah Iran menyatakan kelompok tersebut bertindak secara independen dan keputusan serangannya dibuat berdasarkan kepentingan mereka sendiri.









