Home Internasional Iran Mulai Perluas Pengaruh di Tengah Perang dengan AS
Internasional

Iran Mulai Perluas Pengaruh di Tengah Perang dengan AS

Share
Iran Mulai Perluas Pengaruh di Tengah Perang dengan AS
Ilustrasi bendera Iran | Dok. via Reuters
Share

PUNCA.CO – Pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah dinilai kembali menguat setelah serangkaian serangan yang dilakukan bersama kelompok sekutunya mengganggu jalur pelayaran dan ekspor minyak.

Situasi tersebut turut mendorong kenaikan harga energi. Harga minyak sempat mencapai sekitar 110 dollar AS per barrel pada Jum’at (11/9/2026), atau sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang.

Dilansir Kompas.com (13/9/2026), analis senior Eurasia Group, Gregory Brew, menilai perkembangan di Yaman menjadi salah satu faktor yang mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.

Baca juga: Muda Seudang Tolak Pembangunan Brigif dan Yonif TP di Pante Ceureumen Aceh Barat

“Keberhasilan Houthi di Yaman telah mengembalikan keseimbangan kekuatan ke pihak Iran,” kata Gregory Brew, Sabtu (12/9/2026).

Brew menilai Iran berhasil mengubah status quo tanpa memicu perang skala penuh yang kemungkinan tidak diinginkan oleh rezim saat ini.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran merebut sebuah pulau di Laut Merah pada Jumat (11/9/2026). Langkah tersebut memberikan pijakan strategis untuk mengganggu jalur pelayaran yang menjadi rute penting pengiriman minyak dari Timur Tengah.

Baca juga: Mualem Intruksikan Percepat Penyediaan Lahan Integrasi dan Penataan HGU

Iran diketahui memberikan dukungan berupa senjata, uang tunai, dan logistik kepada Houthi. Namun, analis menilai Houthi bukan saluran langsung kepentingan Iran di Yaman sekaligus tidak sepenuhnya terlepas dari pengaruh Teheran.

Arab Saudi turut merasakan dampak konflik. Ekspor minyak negara tersebut turun pada bulan lalu ke tingkat terendah dalam sedikitnya 13 tahun. Pipa menuju pelabuhan Laut Merah Saudi juga sempat ditutup setelah serangan pesawat tak berawak dari wilayah Irak.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan politik terhadap Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu sela November. Trump sendiri mengaku enggan menjalankan operasi militer baru terhadap Houthi di Yaman.

Baca juga: Di Forum DPD-RI, Dek Fadh: Keberlanjutan Dana Otsus Jadi Solusi Perkuat Pembangunan dan Pemulihan Aceh

Di Selat Hormuz, lalu lintas kapal masih jauh di bawah kondisi sebelum perang. Hanya sebagian kecil kapal yang dapat melintas dengan bantuan pengawalan angkatan laut AS.

Kondisi itu menunjukkan Iran kehilangan sebagian pengaruhnya di Selat Hormuz. Namun, Teheran dinilai berupaya mendapatkan kembali pengaruh melalui kawasan lain.

“Rezim tersebut sekarang berusaha merebut kembali pengaruhnya di tempat lain,” jelas pakar Iran dari Foundation for Defense of Democracies, Behnam Ben Taleblu.

Baca juga: Mualem Respek dengan Cara Mahasiswa USK Unjukrasa

“Strategi militer Iran bersifat eskalatif dan dapat diprediksi. Ini semua tentang eskalasi lintas domain bagi Teheran yang semakin berani mengambil risiko,” lanjutnya.

Iran juga meningkatkan serangan terhadap kapal perang AS di Teluk Persia. Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei mengeklaim negaranya telah menguji rudal baru untuk menghadapi kapal AS.

Sebagai respons, militer AS menghancurkan sejumlah kapal tanker minyak mentah Iran.

Baca juga: Perang Trump dengan Iran Dinilai Mengulang Jejak Konflik Panjang Pascaserangan 9/11

Tekanan akibat konflik juga menempatkan negara-negara Teluk dalam posisi sulit. Iran dan Oman dijadwalkan bertemu dengan negara-negara Teluk Persia lainnya untuk membahas situasi Selat Hormuz.

Pertemuan tersebut, jika terlaksana, dinilai dapat mencerminkan perubahan sikap negara-negara Teluk terhadap Washington.

“Pertemuan itu adalah cerminan kekecewaan mendalam di seluruh Teluk terhadap Washington dan kebijakan AS di kawasan tersebut,” ujar Danny Citrinowicz, pensiunan perwira intelijen Israel yang ahli dalam bidang Iran.

Baca juga: Wagub Aceh Hadiri Rakorgub Se-Sumatera, Dorong Sumatera Jadi Satu Kekuatan Ekonomi

Menurutnya, negara-negara Teluk menghadapi pilihan antara konfrontasi berkepanjangan atau mengakui otoritas Iran atas selat tersebut dengan harapan stabilitas dapat kembali.

“Diplomasi Iran dengan negara-negara Teluk adalah contoh klasik dari tikaman dari belakang dan jabat tangan di depan,” tutur Taleblu.

“Teheran menghabiskan waktu berbulan-bulan menyerang negara-negara ini secara langsung dan tidak langsung serta menciptakan kondisi yang menyebabkan kerugian pendapatan yang besar dan ketidakmampuan untuk mengekspor minyak,” sambungnya.

Share
Tulisan Terkait

AS Serang Dua Peluncur Iran di Pulau Larak, Ketegangan Selat Hormuz Memuncak

PUNCA.CO – AS serang Iran kembali terjadi setelah militer Amerika Serikat menargetkan...

Iran Tak Gentar Hadapi Anacaman Sanksi AS, Sebut Washington Mulai Putus Asa

PUNCA.CO – Iran menegaskan tidak akan menyerah menghadapi sanksi baru AS terhadap...

Harga Minyak Dunia Naik, Pasar Khawatir Konflik Ganggu Pasokan

PUNCA.CO – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (12/8) pagi....

Trump Balik Tuntut Iran Bayar Kompensasi atas Korban dan Kerusakan

PUNCA.CO – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuntut Iran membayar kompensasi...