PUNCA.CO – Kasus ISPA Sumsel yang berkaitan dengan paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 40.455 kasus sepanjang September 2026. Kelompok balita dan warga dengan kondisi rentan menjadi yang paling berisiko terdampak.
Dilansir tirto.id (4/10/2026), data Dinas Kesehatan Sumatera Selatan menunjukkan Palembang menjadi daerah dengan kasus terbanyak, yakni 10.965 kasus. Selanjutnya Musi Banyuasin mencatat 5.617 kasus, Muara Enim 3.350 kasus, Lahat 2.420 kasus, dan Banyuasin 2.125 kasus.
Kemudian, kasus ISPA tercatat 1.876 kasus di Prabumulih, 1.844 kasus di Lubuklinggau, 1.829 kasus di Ogan Ilir, 1.844 kasus di Ogan Komering Ilir, serta 1.370 kasus di Musi Rawas.
Baca juga: Harga Cabai Merah Jadi Pemicu Utama Inflasi Aceh September
Jumlah tersebut sebenarnya mengalami penurunan dibanding Agustus 2026 yang mencapai 46.020 kasus. Namun, penurunan itu belum signifikan karena jumlah penderita masih berada pada angka tinggi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumsel Ira Primadesa mengatakan, balita menjadi salah satu kelompok yang rentan terhadap paparan asap. Dari total kasus pada September, sebanyak 9.671 kasus dialami anak berusia di bawah lima tahun.
“Penderita ISPA di Sumsel pada September 2026 masih sangat tinggi, tembus 40.555 kasus, 9.671 kasus di antaranya berasal dari balita,” ungkap Ira Primadesa, Minggu (4/10/2026).
Baca juga: Kasus Dugaan Penganiayaan di SMA 3 Banda Aceh Naik ke Penyidikan, 7 Pelajar Diperiksa
Untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus berkendara.
Aktivitas di luar rumah juga disarankan untuk dihindari terutama pada pagi hingga sore hari. Pada periode tersebut, konsentrasi PM2.5 tercatat lebih dari 400 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori berbahaya.
Masyarakat juga dianjurkan tetap berada di dalam rumah dengan menutup pintu dan jendela agar asap tidak masuk. Kondisi udara pada malam hari juga masih menjadi perhatian karena kabut asap semakin pekat.
Baca juga: Tinjau Daerah Irigasi Seunong, Wagub Dek Fadh Dorong Perbaikan Segera
“Anak-anak, wanita hamil, dan kelompok rentan dilarang bermain di luar rumah, biasakan juga pakai masker jika terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Dan tentunya periksakan ke dokter jika ada gangguan pernapasan,” kata Ira.
Sementara itu, data Stasiun Talang Betutu Palembang pada Minggu (4/10/2026) menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada di kisaran 160,2 hingga 694,4 mikrogram per meter kubik. Peningkatan partikulat halus terutama terjadi pada pukul 04.00 hingga 09.00 WIB.
Pengukuran menggunakan metode Beta Attenuation Monitoring (BAM) tersebut menunjukkan kualitas udara Palembang belum membaik. Kondisinya masih berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.






