Home Opini Mendarat di Bandara Nicolau Lobato Timor Leste
Opini

Mendarat di Bandara Nicolau Lobato Timor Leste

Share
Share

Oleh: Meurah Fathiyatul Alya

Saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan ke Timor Leste akan menjadi salah satu pengalaman paling berharga dalam perjalanan akademik saya. Bukan sekadar perjalanan ke negara lain, tetapi sebuah kesempatan untuk melihat langsung bagaimana sebuah bangsa membangun dirinya setelah melewati konflik panjang.

Saat ini saya adalah mahasiswi Program Studi Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Banda Aceh, yang sedang memasuki semester tahun kedua perkuliahan.

Sebelumnya, saya sempat menghabiskan enam tahun pendidikan di lingkungan dayah, yaitu di Darul Quran dan kemudian melanjutkan ke Ruhul Islam Anak Bangsa.

Baca juga: Program Aceh Peace Generation 2047, ACSTF Kirim Pemuda Studi Perdamaian ke Luar Negeri

Oleh karena latar belakang pendidikan tersebut membuat saya memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap dinamika sosial dan politik. Karena itu, perjalanan ke Timor Leste menjadi pengalaman yang sangat berarti. Selama ini hanya mengenal negeri itu melalui buku, artikel, dan media sosial. Kini tak disangka dapat kesempatan untuk melihatnya secara langsung.

Kesempatan tersebut datang melalui program Aceh Peace Generation: Youth Politics and Future Peace Building yang difasilitasi oleh Acehnese Civil Society Task Force (ACSTF) bekerja sama dengan GPPAC Southeast Asia. Program berlangsung selama sebelas hari, mulai 21 hingga 31 Juli 2026.

Begitu memperoleh informasi mengenai program tersebut, saya langsung mendaftarkan diri. Sebagai mahasiswi Ilmu Politik, saya merasa perjalanan ini akan menjadi ruang belajar yang tidak mungkin didapatkan di dalam kelas.

Baca juga: Perlindungan Kesehatan Rakyat Timor Leste

Mengingat Kembali Sejarah Timor Leste

Pikiran saya langsung kembali pada sebuah artikel yang pernah saya baca saat pertama kali menjadi mahasiswa pada 2025. Artikel tersebut mengulas perjalanan sejarah Timor Leste yang pernah menjadi provinsi ke-27 Republik Indonesia sebelum akhirnya meraih kemerdekaan melalui referendum pada 30 Agustus 1999.

Semakin banyak membaca, semakin besar pula rasa penasaran saya.

Saya membayangkan bagaimana rakyat Timor Leste harus melewati perjalanan sejarah yang begitu panjang. Selama sekitar 450 tahun mereka berada di bawah kekuasaan kolonial Portugis. Setelah itu, mereka kembali menghadapi masa-masa penuh gejolak sebelum akhirnya berdiri sebagai negara merdeka.

Baca juga: Wajah Kebebasan Timor Leste

Di sisi lain, saya juga menemukan berbagai opini di media sosial yang menyebut bahwa masyarakat Timor Leste menyesal berpisah dari Indonesia. Namun menariknya, sebagian besar pendapat tersebut justru datang dari orang luar, bukan dari masyarakat Timor Leste sendiri.

Saat itulah saya berkata dalam hati, “Saya harus melihat sendiri bagaimana kenyataannya.”

Persiapan Sebelum Berangkat

Sebelum keberangkatan, kami mengikuti pembekalan yang dipandu oleh tim ACSTF, yaitu Bapak Otto Syamsuddin Ishak, Ibu Hemma, dan Ibu Novi yang juga menjadi ketua delegasi.

Baca juga: Joaquim Fonseqa Ungkap Alasan Maju Pilpres Timor-Leste Kepada ACSTF

Selain saya, delegasi Aceh terdiri dari Hakim Budian, mahasiswa Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, serta Awwaluddin, mahasiswa Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik Universitas Syiah Kuala.

Dalam pembekalan tersebut, kami tidak hanya dijelaskan mengenai tujuan perjalanan, tetapi juga diarahkan tentang apa yang harus dipelajari selama berada di Timor Leste.

Saya masih mengingat pesan Pak Otto. “Perjalanan ini bukan sekadar jalan-jalan. Kalian datang untuk belajar. Sebagai generasi muda, manfaatkan kesempatan ini untuk membawa pulang pengetahuan yang dapat memperkuat perdamaian dan pembangunan Aceh.” pesan itu terus terngiang selama perjalanan.

Baca juga: 713,78 Ribu Warga Aceh Masih Hidup di Bawah Garis Kemiskinan

Sebelum berangkat, kami juga dibekali pemahaman mengenai sejarah konflik Aceh, proses perdamaian, serta berbagai lembaga yang berperan dalam implementasi perdamaian, seperti Badan Reintegrasi Aceh (BRA), Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, hingga berdiskusi dengan salah satu anggota tim negosiator GAM, Bapak Teuku Kamaruzzaman atau yang lebih dikenal sebagai Ampon Man.

Kami juga berdialog dengan Bappeda Aceh mengenai perkembangan pembangunan Aceh selama dua dekade pelaksanaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Bekal pengetahuan ini penting agar kami mampu menjelaskan pengalaman Aceh kepada generasi muda Timor Leste ketika berdiskusi nanti.

Baca juga: Pemerintah Aceh Jelaskan Posisi Bantuan Kementan untuk Pemulihan Sawah dan Kebun

Negeri yang Menyimpan Harapan “Greater Sunrise”

Menjelang keberangkatan, saya juga membaca tentang Greater Sunrise, kawasan ladang minyak dan gas yang dikelola bersama oleh Timor Leste dan Australia berdasarkan Perjanjian Batas Maritim yang ditandatangani pada 6 Maret 2018.

Banyak analis menyebut kawasan ini sebagai salah satu harapan terbesar masa depan ekonomi Timor Leste. Membaca kisah tersebut membuat saya semakin ingin memahami bagaimana negara kecil ini membangun optimisme di tengah berbagai tantangan pembangunan.

Baca juga: 14 Wilayah Aceh Berpotensi Hujan Lebat dan Angin Kencang, BMKG Keluarkan Peringatan Dini

Mendarat di Dili

Pada pagi hari, 22 Juli 2026 sekitar pukul 07.00 waktu Dili, pesawat Batik Air yang kami tumpangi dari Kuala Lumpur akhirnya mendarat dengan selamat. Sepanjang penerbangan sempat terjadi turbulensi ringan, tetapi syukur kepada Allah SWT perjalanan berlangsung lancar.

Begitu memasuki terminal bandara, mata saya langsung tertuju pada tulisan besar Presidente Nicolau Lobato International Airport. Dalam hati saya bertanya, “Siapakah Nicolau Lobato?”

Sambil mengantre di konter imigrasi, saya membuka telepon genggam dan mencari tahu sosok tersebut.

Baca juga: Prabowo Instruksikan Penyelesaian Pemadaman Listrik dan Jaga Stabilitas Harga BBM

Ternyata Nicolau Lobato merupakan Presiden pertama Timor Leste setelah deklarasi kemerdekaan tahun 1975 sekaligus Perdana Menteri pertama negara itu. Ketika Indonesia melakukan invasi pada 7 Desember 1975, ia bersama para pemimpin FRETILIN bergerilya di pegunungan hingga akhirnya gugur pada 31 Desember 1978 akibat luka tembak yang dideritanya.

Saya terdiam cukup lama. Begitulah sebuah bangsa menghormati pejuangnya. Bahkan nama bandara internasional mereka diabadikan untuk mengenang seorang tokoh yang berjuang demi kemerdekaan negaranya.

Pikiran saya kemudian melayang ke Aceh. Saya bertanya dalam hati, apakah Aceh juga telah memberikan penghormatan serupa kepada para pejuang yang gugur dalam perjalanan sejarahnya?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya. Semakin lama, rasa ingin tahu saya terhadap Timor Leste justru semakin besar.

Baca juga: Angin Kencang Terjang Lhoong Aceh Besar, Atap Rumah Warga Terbang dan Rusak Berat

Sambutan Hangat di Negeri Baru

Keluar dari bandara, kami disambut oleh Mr. Steven, yang selama berada di Timor Leste akan menjadi pendamping sekaligus mengantar kami ke berbagai lokasi kunjungan.

Dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata, Maun Steven (‘maun’ panggilan kakak di Timor Leste) langsung mengajak kami mencari tempat sarapan.

Ibu Novi sempat berpesan, “Steven, kita cari warung yang halal, ya.”

Baca juga: Dukcapil Ungkap Ratusan WNI Gunakan Nama Karakter Anime, dari Nobita hingga Naruto

Ternyata menemukan makanan halal di Kota Dili bukanlah hal yang sulit. Ada beberapa warung yang menyediakan menu halal sehingga kami dapat menikmati sarapan dengan tenang sebelum memulai rangkaian kegiatan.

Setelah beristirahat sejenak di penginapan, perjalanan belajar kami akhirnya resmi dimulai. Destinasi pertama yang kami tuju adalah Museum Perjuangan Rakyat Timor Leste, tempat yang menyimpan kisah panjang tentang perjuangan, pengorbanan, dan lahirnya sebuah bangsa yang merdeka.

(bersambung)…

Share
Tulisan Terkait

10 Hektare Lahan di Blang Bintang Terbakar

PUNCA.CO – 10 hektare lahan di Gampong Data Makmur, Kecamatan Blang Bintang,...

Limbah Uang Rupiah Tak Layak Edar Kini Jadi Bahan Bakar Alternatif Industri Semen

PUNCA.CO – Limbah hasil pemusnahan uang Rupiah tidak layak edar kini mendapat...

Kasus Korupsi Beasiswa Aceh, Empat Tersangka Diserahkan ke Kejari Banda Aceh

PUNCA.CO – Kejaksaan Negeri (Kejari) Banda Aceh menerima pelimpahan tahap II berupa...

Kasus HIV/AIDS Banda Aceh Capai 918 Orang, 43 Kasus Baru di Temukan 2026

PUNCA.CO – Kasus HIV/AIDS di Kota Banda Aceh terus menjadi perhatian pemerintah....