PUNCA.CO – Serangan drone dan rudal kelompok Houthi ke sejumlah wilayah Arab Saudi pada Sabtu (19/9/2026) kembali meningkatkan ketegangan di Timur Tengah. Serangan tersebut menyasar ibu kota Riyadh dan diklaim turut menghantam fasilitas minyak Aramco di Yanbu, salah satu pusat penting ekspor energi di pesisir Laut Merah.
Dilansir Tirto.id, (20/9/2026), merespons situasi tersebut, Pemerintah Turki menyatakan kesiapannya memberikan bantuan militer kepada Arab Saudi. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan mengatakan Riyadh berpotensi membutuhkan dukungan teknis untuk menghadapi ancaman serangan udara dari kelompok Houthi.
Bantuan itu dapat disalurkan melalui pakta pertahanan trilateral yang ditandatangani Turki, Arab Saudi, dan Pakistan pada bulan sebelumnya. Dalam kesepakatan tersebut, serangan terhadap salah satu negara dipandang sebagai serangan terhadap ketiga negara.
Baca juga: Aceh Peringkat 4 MTQ Nasional 2026, Dek Fadh Beri Bonus Rp200 Juta
Sementara itu, koalisi militer pimpinan Arab Saudi mengonfirmasi keberhasilan sistem pertahanan udaranya dalam mencegat rudal yang mengarah ke Riyadh. Koalisi juga menggagalkan sejumlah serangan drone di wilayah Bish, Farasan, Taif, dan Yanbu.
“Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menyatakan bahwa pertahanan udaranya telah menghancurkan sebuah rudal yang ditembakkan oleh kelompok Yaman tersebut ke arah Riyadh pada Sabtu pagi,” kata Koalisi militer pimpinan Arab Saudi, dikutip dari Reuters.
Sebelum situasi dinyatakan aman, otoritas Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan bahaya udara bagi warga di Riyadh dan Al-Kharj.
Baca juga: Aiyub Abbas; Pembahasan UUPA Dikawal Bersama
Serangan terbaru ini merupakan respons Houthi terhadap operasi militer di ibu kota Yaman, Sanaa. Sejak mengumumkan blokade laut terhadap Riyadh pada Juli 2026, kelompok tersebut terus melancarkan serangan ke Arab Saudi, termasuk menargetkan kapal-kapal negara itu di Laut Merah.
Eskalasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran dan pasokan minyak global. Ancaman semakin besar karena Selat Hormuz juga masih berada dalam situasi pemblokadean, sehingga jalur Laut Merah menjadi semakin penting bagi ekspor energi dari kawasan Teluk.
Ketegangan regional turut dipengaruhi perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran. Meski Arab Saudi meminta intervensi militer langsung, Presiden AS Donald Trump menolak melibatkan pasukannya secara langsung dalam operasi melawan Houthi.
Baca juga: Rapim Partai Aceh, Aiyub Minta Kader Kembali Bersatu Hadapi Agenda Politik
Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam tindakan Houthi yang menargetkan warga sipil dan fasilitas energi. Iran, sementara itu, menyatakan dukungannya terhadap upaya mediasi untuk menghentikan pertempuran di seluruh lini konflik.










