PUNCA.CO – Elon Musk mendapat peran penasihat resmi dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump setelah ditunjuk untuk ikut memimpin Project Meridian, studi Pentagon mengenai perang masa depan.
Dilansir Kompas.com (4/10/2026), Musk akan menjalankan proyek tersebut bersama pendiri perusahaan teknologi pertahanan Anduril Industries, Palmer Luckey, serta mantan Ketua DPR AS, Newt Gingrich.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengumumkan Project Meridian dalam pidatonya di hadapan pasukan di Marine Corps Base Quantico, Virginia, Rabu (30/9/2026).
Baca juga: Plt Sekda Aceh Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Kantor PWI Aceh
Penunjukan itu menjadi peran penasihat resmi pertama Musk di pemerintahan Trump sejak keduanya sempat berselisih secara terbuka. Konflik tersebut terjadi setelah Musk meninggalkan Department of Government Efficiency (DOGE) pada Mei 2025. Keduanya kini telah berdamai.
Menurut Hegseth, Project Meridian akan melibatkan inovator, pemimpin senior, serta ahli teknologi untuk mempersiapkan AS menghadapi berbagai kemungkinan konflik di masa depan.
“Pihak yang paling jago memprediksi konflik masa depan tidak hanya ada di dalam Pentagon,” kata Hegseth.
Studi tersebut tidak diarahkan untuk menghasilkan dokumen kebijakan atau strategi baru. Sebaliknya, tim akan mengkaji medan perang yang perlu dikuasai serta kemampuan militer yang harus dipersiapkan untuk generasi mendatang.
Cakupan kajiannya sangat luas, mulai dari wilayah bawah permukaan bumi hingga kawasan di luar bulan. Dalam memo pembentukan Project Meridian yang diterbitkan pada hari yang sama, Hegseth menyebut sejumlah teknologi yang dinilai dapat mengubah cara peperangan, termasuk kecerdasan buatan (AI), sistem otonom, senjata energi terarah, robotika, dan bioteknologi.
Luckey sendiri mendirikan Anduril pada 2017 setelah sebelumnya menjual perusahaan headset virtual reality (VR) Oculus kepada Facebook.
Baca juga: Dek Fadh Usulkan Penyediaan Alat Berat untuk Daerah Rawan Banjir
“Kami akan mempelajari perang yang terjadi hari ini, tetapi juga memikirkan secara serius perang yang tidak boleh sampai kita jalani pada 2030, 2050, dan 2100,” kata Luckey.
Keterlibatan Musk juga berkaitan dengan pengembangan robotika Tesla. Perusahaan tersebut tengah mengembangkan robot humanoid Optimus, yang menjadi salah satu bidang teknologi dalam Project Meridian.
Pada September 2025, Musk menyebut melalui unggahan di media sosial X bahwa sekitar 80 persen nilai Tesla nantinya akan berasal dari Optimus.
Baca juga: Awal Oktober, Hujan Sedang hingga Lebat Berpotensi Meluas di Aceh
Tesla kemudian menghentikan produksi Model S dan Model X pada awal Mei 2026. Jalur perakitan kedua model di pabrik Fremont, California, dibongkar dalam 46 hari dan dialihkan menjadi lini produksi Optimus.
Tesla mengeklaim lini tersebut mampu memproduksi hingga 1 juta robot per tahun. Namun, Musk mengakui produksi awal Optimus akan berlangsung cukup lambat.
Tesla juga berencana membangun lini produksi generasi kedua di Gigafactory Texas dengan kapasitas hingga 10 juta robot per tahun mulai 2027.






