PUNCA.CO – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina telah menyepakati gencatan senjata di sektor energi. Kesepakatan tersebut diklaim berlaku segera, meski belum disertai penjelasan terperinci mengenai mekanisme maupun cakupan penghentian serangan.
Dilansir CNBC Indonesia (12/10/2026), Trump menyampaikan pengumuman itu melalui platform media sosial Truth Social pada Minggu waktu setempat. Pernyataan tersebut muncul ketika harga energi global mengalami tekanan akibat perang AS dengan Iran.
Trump menulis dalam unggahannya yang dilihat pada Senin (12/10/2026), “Segera berlaku, terdapat GENCATAN SENJATA ENERGI dalam perang antara Rusia dan Ukraina. Kedua belah pihak telah sepakat. Jangan melanggarnya!”
Baca juga: BMKG Pantau Arus Laut hingga 150 Kilometer dari Aceh, Dukung Deteksi Dini Tsunami
Ukraina menyatakan dukungan terhadap gagasan penghentian serangan di sektor energi. Namun, hingga laporan CNBC International, belum ada konfirmasi langsung dari pemerintah Rusia mengenai kesepakatan yang diumumkan Trump.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyampaikan bahwa dukungan kedua pihak diperlukan agar gencatan senjata tersebut dapat terlaksana. Ia juga mengungkapkan telah membahas pengumuman Trump dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, serta Presiden Finlandia Alexander Stubb.
Ancaman AS terhadap Ukraina
Di tengah perkembangan tersebut, hubungan Washington dan Kyiv turut menjadi sorotan. Mengutip Reuters, seseorang yang mengetahui situasi itu mengatakan bahwa AS mengancam akan menghentikan pembagian data intelijen dengan Ukraina serta pengadaan senjata melalui mekanisme Daftar Persyaratan Prioritas Ukraina atau PURL. Ancaman serupa sebelumnya juga diberitakan Financial Times.
Baca juga: Terima Kunjungan MAPIM, Wali Nanggroe Jajaki Kerja Sama Aceh-Malaysia
Sumber tersebut menambahkan bahwa Zelenskiy tengah berkomunikasi dengan sejumlah pemimpin Eropa untuk mencari cara meredakan ketegangan dengan Trump.
Sebelumnya, Rusia dan Ukraina berulang kali melancarkan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing selama perang yang berlangsung sejak invasi Rusia pada 2022. Penghentian serangan terhadap infrastruktur energi dinilai berpotensi membantu mengurangi tekanan pasokan minyak dan gas menjelang musim dingin.
Trump juga disebut telah mencapai kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait pengiriman diesel Rusia sebanyak total 4,8 juta ton untuk pasar AS dan global. Dalam perkembangan yang sama, Trump meminta Zelenskiy segera mengundurkan diri dari jabatannya.
Baca juga: IASC Terima 7.454 Laporan Penipuan dari Aceh, Belanja Online Terbanyak
Tekanan Politik Menjelang Pemilu Sela AS
Upaya Trump menghentikan perang Rusia-Ukraina berlangsung di tengah tantangan politik domestik. AS dijadwalkan menggelar pemilu sela pada November 2026 untuk memilih anggota Kongres, termasuk di Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Harga energi menjadi salah satu persoalan penting bagi pemerintahan Trump. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan gas telah memicu kritik terhadap pemerintahannya dan berpotensi memengaruhi hasil pemilu, termasuk peluang Partai Republik menghadapi kekalahan besar dari Partai Demokrat.
Meski Trump berulang kali berupaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina, konflik tersebut sejauh ini belum berhasil dihentikan secara permanen. Karena itu, pelaksanaan gencatan senjata energi yang diumumkannya masih bergantung pada dukungan dan kepatuhan kedua negara.










